Sejarah Andalusia

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA
(Dinamika Sosial-Politik)
oleh Nafiul Lubab
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Peta sejarah peradaban Islam di dunia terkesan dalam benak pikiran Orientalis atau Islamisis dengan sejarah yang penuh berdarah, berperang, hidup namoden, dan hampir tak berperadaban. Hal ini nampak dengan sejarah peristiwa perang saudara sesama muslim, peristiwa tahkim antara golongan Ali, Muawiyah, dan Khawarij. Lalu dengan kejadian berakhirnya pemerintahan Daulah Umayyah yang penuh tragedi revolusioner oleh Bani Abbasiyah. Realita ini, sungguh tidak nyaman bagi dunia Muslim, ruang gerak pembacaan sejarah secara parsial mempengaruhi tesis sejarah menjadi kurang arif bertindak untuk menengahi masa di sini, kini, dan yang akan datang.
Semestinya umat Islam perlu mengangkat sisi-sisi analisa pemahaman sejarah secara komprehensif, bukan hanya pengaguman alibi sejarah semata. Penulis mempertentangkan anggapan di atas dengan memperhatikan perkembangan sejarah peradaban Islam semenjak Nabi Muhammad SAW hingga Abbasiyah telah tercatat dalam dunia, ada dua puncak kejayaan dan kebesaran. Pada masa itu abad 8 hingga permulaan abad 13 M, yakni Daulah Islam di Timur (Daulah Abbasiyah, 256-750 M) berpusat di Baghdad dan Daulah Islam di Barat (Daulah Umayyah, 756-1031 M), yang berpusat di Cordoba. Keduanya memperlihatkan berbagai kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sebagaimana Philip K Hitti melukiskan kedua kota itu dengan ungkapan “Cordoba Mutiara Dunia” dan “Kemegahan yang bernama
Baghdad” (Ismail, 1997:215). Ini lah bentuk counternya sebagai penyeimbang argumen Orientalis atau Islamisis.
 Dua Daulah tersebut berlangsung secara bersama-sama dalam kurun waktu tertentu. Lebih tepatnya posisi Daulah Abbasiyah saat awal-awal berdirinya dan Daulah Umayyah  di Andalusia (baca juga:Spanyol) ini masuk pada jilid Umayyah II. Berawal dari permasalahan di atas penulis hendak mengkaji lebih fokus pada titik tekan dari sisi bagian sosial-politik di dalam sejarah peradaban Islam di Andalusia. Karena Andalusia ini merupakan daerah Eropa pertama yang dibuka umat Islam untuk memperkenalkan Islam di mata orang Eropa.

B.     Rumusan Masalah
 Dari latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Andalusia sebelum masuknya umat Islam?
2.      Bagaimana sejarah masuknya Islam ke Andalusia?
3.      Bagaimana penguasaan sosial-politik Islam di Andalusia?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Andalusia Tempo Dulu
 Andalusia terletak di Benua Eropa Barat Daya, dengan batas-batas di timur dan tenggara adalah laut tengah, di selatan benua Afrika yang terhalang oleh selat Gibraltar, di Barat Samudra Atlantik, dan di utara teluk Biscy, dan pegunungan Pyrenia di timur laut membatasi Andalusia dengan Prancis. Andalusia adalah sebutan pada masa Islam, daerah ini dikenal dengan semenanjung Iberia, 93 % wilayah Spanyol, sisanya Portugal (Karim, 2007:227). Julukan Andalusia ini berasal dari kata Vandalusia, artinya negeri bangsa Vandal, karena bagian selatan semenanjung ini pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka dikalahkan oleh bangsa Gothia Barat pada abad V (Suwito, 2005:110).
 Daerah ini diketahui masyhurnya sejak dikuasai Yunani, kemudian oleh kekaisaran Romawi pada zaman Romawi agama Kristen meluas di Andalusia. Baru kemudian Andalusia dikuasai kerajaan Visigoth. Karena raja Roderick (w.711 M) memerintah dengan sewenang-wenang, Julian, keluarga Roderick yang menjadi gubernur Ceuta menaruh dendam kepadanya. Akibat dendam itu Julian meminta bantuan militer kepada kekuasaan Islam (Ensiklopedi Islam, 2002, 144).
Kondisi sosial masyarakat Andalusia menjelang penaklukan Islam sangat memprihatinkan, masyarakat terpolarisasi dalam tiga kelas. Sehingga ada masyarakat kelas 1 yaitu para raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama, dan tuan tanah besar. Kelas 2 terdiri atas tuan-tuan tanah kecil, dan kelas 3 para budak, termasuk budak tani yang nasibnya tergantung pada tanah, penggembala, nelayan, pandai besi, orang Yahudi, kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari. Kelas 2 dan 3 banyak mengalami penekanan dan penindasan oleh kelas utama, mereka banyak yang lari ke hutan karena trauma dengan penindasan. Demi mempertahankan hidup mereka terpaksa harus mencari nafkah dengan cara membunuh, merampas, dan membajak. Kebangkrutan moral ini bersamaan dengan jatuhnya ekonomi (Karim, 2007:228).
Penaklukan kekuatan Islam ke Andalusia sangat disambut antusias oleh golongan 2 dan 3 ini. Mereka berharap banyak terhadap cahaya ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Mereka mendengar pula prinsip keadilan dijalankan Thariq di Tangier, yaitu manusia memiliki derajat yang sama, tidak ada kelebihan yang berkulit putih dari yang hitam, orang Arab dari yang bukan Arab, kecuali orang yang bertaqwa (Karim, 2007:228-229).  

B.     Sejarah Masuknya Islam ke Andalusia
 Ada tiga nama yang berjasa dalam penaklukan Spanyol, yaitu Musa bin Nushair, Tharif bin Malik, dan Thariq bin Ziyad. Ketika itu dinasti Umayyah dipegang oleh Khalifah al-Walid bin Abdul Malik (al-Walid I) (naik tahta 86 H/705 M), khalifah keenam. Ia menunjuk Musa bin Nusair, Afrika bagian barat dapat dikuasai kecuali Sabtah (Ceuta) yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Bizantium. Ketika inilah pasukan Islam mampu menguasai bagian barat sampai Andalusia (Ensiklopedi Islam, 2002, 144).
Kerja sama yang ditawarkan oleh Julian kepada tentara Islam yang ketika itu dipimpin oleh Musa bin Nusair diterima dengan baik. Setelah mendapat persetujuan dari Khalifah al-Walid I, Musa bin Nushair memerintahkan panglima Thariq bin Abdul Malik an-Nakha’i melakukan penjajakan awal dengan membawa 400 tentara dengan 100 pasukan berkuda dan 4 armada laut sampai di pelabuhan yang sekarang dikenal pelabuhan Tharifah (sebagai bukti kuat yang mengabadikan panglima Tharifah) memasuki wilayah Andalusia pada tahun 710 M. Pada tahun 711 M, Musa bin Nusair mengutus Thariq bin Ziyad untuk melanjutkan penyerangan ke Andalusia dengan pasukan yang lebih besar. Ini merupakan masa pertama bagi Islam memasuki Andalusia (Ensiklopedi Islam, 2002, 145, Karim, 2007:229).
 Pasukan Thariq bin Ziyad terdiri dari sebagian suku Barbar (muslim dari Afrika Utara) yang didukung Musa bin Nushair dan sebagian lagi bangsa Arab yang dikirim oleh al-Walid. Pasukannya berjumlah 7000 (ada juga yang menyebutkan jumlahnya 12.000 orang Barbar dengan meminta bantuan provinsi-provinsi dan para tuan tanah) menyeberangi selat dan mendarat di sebuah bukit, yang kemudian diabadikan dengan nama “Jabal Thariq” atau Jibraltar.  Menjelang perang, Thariq membakar semangat kaum muslim, yang mayoritas Barbar yang  baru masuk Islam dengan orasinya dengan mengutip dari bukunya A. Malik Abdul Karim (2007:230) dan (al-Adab, 1994:119):
Wahai tentaraku. Hendak lari ke mana engkau? Di belakangmoe laoet, di depanmu moesoeh. Demi Toehan, tidaklah tinggal bagimoe lagi melainkan djoedjoer dan tenang. Ketoehilah bahwa kamoe di poelau ini lebih sempit hidoepmoe dari pada anak jatim di tengah-tengah orang jang kedjam… moesoeh soedah menghadapkan angkatan perangnya kepadamoe. Alat sendjatanja dan persiapan makanannja mengatasi. Tidak ada jang dapat membela dirimoe melainkan pedangmoe!   

 Gubernur Spanyol Tenggara, Theodomir mengirim berita kedatangan tentara muslim itu kepada Roderic.  Terjadilah peperangan, tentara Spanyol di bawah pimpinan Roderick dapat ditaklukkan dan Cordova jatuh pada tanggal 19 Juli 711 M. Dari sana wilayah-wilayah Spanyol seperti Toledo (pusat kerajaan Visigoth), Sevilla, Elvira, Archedonia, Malaga, dan Granada dapat dikuasai dengan mudah (Ensiklopedi Islam, 2002, 145, Karim, 2007:229, Nata, 2010:258-259, Watt, 1972:2).
 Setelah Musa bin Nushair mendengar keberhasilan pasukan Islam, maka pada tahun 712 M ia memimpin satu pasukan menuju Andalusia melalui jalan yang tidak dilalui oleh pasukan Thariq. Pasukan Musa ini melewati semenanjung dan berhasil menaklukkan kota-kota yang dilewatinya, antara lain Sevilla dan Merida. Pasukan Musa ini bertemu dengan Thariq di kota Toledo. Dengan bergabungnya dua pasukan, daerah yang ditaklukkan semakin meluas sampai ke utara seperti Saragoss, Terroofana, dan Barcelona (Ensiklopedi Islam, 2002, 145).

C.    Dinamika Epos Sejarah Sosial-Politik Islam di Andalusia
 Setelah as-Saffah, Khalifah pertama dinasti Abbasiyah naik tahta, dia membunuh hampir semua anggota keluarga Umayyah. Salah seorang anggota Umayyah yang selamat dari pembalasan dendam Saffah adalah Abdur Rahman bin Mu’awiyah, cucu Hisyam ( Ali, 1995:331). Dalam melarikan diri, ia yang masih berumur 22 tahun didampingi ajudannya bernama Baddar dengan memasuki Mesir, Barca Libya, dan Afrika Utara (Ismail, 1997:217), ia yang telah membuka daulah Umayyah jilid II dan akan dibahas lebih lanjut pada periode kedua di bawah.
 Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana. Islam memainkan peranan sangat besar. Penduduk keturunan Spanyol dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu: (1) kelompok yang telah memeluk Islam, (2) kelompok yang tetap pada keyakinan tetapi meniru adat dan kebiasaan bangsa Arab, baik dalam bertingkah laku maupun bertutur kata, mereka dikenal dengan Musta’ribah, (3) kelompok yang tetap berpegang teguh pada agamanya semula dan warisan budaya nenek moyangnya  (Suwito, 2005:110). Hal ini akan mempengaruhi ruang geraknya dalam ikut mensukseskan atau mengcounter pemerintahan Islam di sana. Masa peranannya itu lebih dari 7,5 abad. Nah, pembagian epos sejarah panjang umat Islam di Spanyol berbagai ahli memetakan bermacam-macam. Penulis mengutip empat sumber buku, yaitu dalam bukunya Abuddin Nata(2010:259-263) membagi enam periode : (1) periode pertama 711-755 M, (2) periode kedua 755-912 M, (3) periode ketiga 912-1013 M, (4) periode keempat 1013- 1086 M, (5) periode kelima 1086-1248 M, dan (6) periode keenam 1248-1492 M.
 Selanjutnya dalam bukunya Ajid Thohir (2004:60) membagi menjadi lima tahapan: (1) masa migrasi dan konsolidasi politik (711-755 M), (2) masa pertumbuhan dan pembinaan (756-852 M), (3) masa krisis dan masa pemberontakan (852-912 M), (4) masa kegemilangan (912-976 M), dan (5) masa kelemahan dan kejatuhan (976-1031 M).  Lalu, M. Abdul Karim(2007;235-236) membagi dengan dua periode: (1) periode dependen (711-756 M), (2) periode independen (756-1031 M).
Lain lagi dalam bukunya Musyrifah Sunanto (2003:118-120) membagi dengan tiga periode, yakni: (1)  periode antara tahun 711-755 M, Andalus diperintah oleh para wali yang diangkat Khalifah bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, (2) periode antar tahun 755-1013 M pada waktu Andalusia dikuasai oleh Daulah Umayyah II, dan (3) periode antara tahun 1031-1492 M, saat umat Islam Andalusia terpecah dan menjadi kerajaan-kerajaan kecil.
 Penulis mengamati dari deskripsi penggalan sejarah waktu di atas, maka dapat disimpulkan ada dua rentan waktu yang berbeda berakhirnya, yaitu ada yang pada tahun 1031 M dan ada pula yang 1492 M. Untuk lebih jelasnya dalam menjelaskan periodisasi raja-raja di Andalusia, penulis lebih menitik beratkan pada pendapatnya Musyrifah Sunanto(2003:118-120) yang membagi menjadi 3 periode:
(1)   Periode Pertama 711-755 M, masa ini Andalusia diperintah oleh para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah di Damaskus. Periode ini secara politis belum stabil, terjadi perebutan kekuasaan antar elit politik belum stabil, masih adanya ancaman musuh Islam dari penguasa setempat. Hal ini berkaitan dengan sejarah masuknya Islam pertama kali yang telah dibahas di point B.
(2)    Periode kedua 755-1013 M, pada waktu Andalusia dikuasai oleh daulah Umayyah II. Periode ini dibagi dua:
a.    Masa keamiran 755-912. Permulaan masa ini saat Abd al-Rahman al-Dakhil terkenal dengan “elang Quraisy” (al-Tarih al-Islami,1994:156) dan artinya “Abd al-Rahman yang masuk” ke Andalusia dan juga “founding fatherdaulah Umayyah di Andalusia (Ismail,1997:218-219), seorang keturunan Bani Umayyah I yang berhasil menyelematkan diri dari kejaran pembunuhan yang dilakukan oleh Bani Abbasiyah di Damaskus.
Abd al-Rahman ini memindahkan ibukota Andalusia secara politis strategis, yang semula di Toledo dipindah ke Cordoba. Ia membangun dinding tembok dan kemudian membagi semenanjung Iberia menjadi 6 wilayah administrative, yang masing-masing wilayah dipimpin oleh gubernur (al-Amir) sekalipun mengumumkan dirinya lepas dari kekuasan daulah Abbasiyah, namun Abd al-Rahman tidak memakai gelar Khalifah. Ia tetap bergelar Amir. Begitu juga penguasa penggantinya sama, gelar Kahifah nanti pada Abd al-Rahman III.
Abd al-Rahman sangat memperhatikan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Ia membuatkan saluran-saluran irigasi untuk kepentingan pertanian rakyat, sebagaimana yang dikatakan R. Dozy, masa itu tak ada sejengkal tanah yang tidak menjadi tanah pertanian (Ismail,1997:218).  Pada masa Amir Yusuf al-Fihr, ia memproklamirkan berdirinya daulah Umawiyah II di Andalusian kelanjutan daulah Umawiyah I di Damaskus.
b.   Masa kekhalifahan 912-1013 M, saat Abd al-Rahman III, amir ke-8 Bani Umayah II, menggelari dirinya dengan Khalifah al-Nashir li Dinillah(912-916 M), ada 3 faktor yang melatar belakangi gelar tersebut(Ismail,1997:221-220): (1) kedudukan Khalifah di Baghdad sejak meninggalnya Khalifah al-Mutawakkil tidakbegitu berpengaruh, pemegang kekuasaan telah berbuat semaunya: membunuh, mengangkat, menurunkan jabatan setiap Khalifah, (2) daulah Fathimiyah(909-1171 M) di Mesir yang berhasil menumbangkan daulah Aghlabiyah (801-909 M) di Afrika Utara telah membebaskan diri sepenuhnya dari kekuasaan pusat di Baghdad dan memproklamirkan dirinya khilafat serta menyeut pejabatnya sebagai Khalifah, dan terakhir (3) daulah Fathimiyah, yang telah berhasil sepenuhnya menguasai wilayah di Afrika Utara, pulau Sicily, Calabria, di semenanjung selatan Itali, Afrika Barat dan Sudan Sahara, sudah dihalau olah Abd al-Rahman III ini.   
Kemudian kedudukannya dilanjutkan oleh Hakam II (961-976 M) yang cinta damai, lebih condong ke estetika, ilmu pengetahuan, dan kesusasteraan, lalu oleh Hisyam II (976-1007 M).
Masa Abd al-Rahman III ini umat Islam Andalusia mengalami kemakmuran dan kemajuan di segala bidang. Dalam bukunya Faisal Ismail (1997:222) menjelaskan bahwa Abd al-Rahman III tanpa tertandingi menempati posisi paling atas, prestasi yang dicapainya luar biasa. Ia mewarisi kerajaan dalam kacau balau dan perang saudara, terpecah antar kelompok dan antar ras. Ia dihadapkan pada serbuan yang terus-menerus dari pihak Kristen di sebelah utara, dan nyaris diganyang oleh kerajaan Leon dan daulah Fathimiyah, namun demikian ia tetap mampu menyelamatkan Andalusia. Belum lagi, ia mewarisi keuangan Negara yang carut marut, tetapi ia mewariskan di kemudian hari dengan pengelolaan keuangan tertata rapi. Sepertiga dari penghasilannya 6.245.000 keping emas sudah cukup untuk menutupi anggaran regular, sepertiga lalu untuk cadangan, dan sisanya untuk biaya pembangunan. Keadaan negeri menikmati kemakmuran, jadi pertanian, industry, perdagangan, dan kebudayaan serta ilmu pengetahuan berkembang bersama-sama.
Angkatan laut yang kekuatannya luar biasa membuat Abd al-Rahman III mampu berhadapan dengan daulah Fathimiyah dalam menguasai laut Tengah, dan membuat ia berhasil menguasai kota benteng Ceuta, yang merupakan kunci wilayah Meuratania./ Angkatan Darat yang jumlahnya besar dan disiplin membuat ia mampu menangkis  serangan-serangan pihak Kristen. Penguasa-penguasa yang paling sombong pun bergairah bersekutu dengannya. Para duta besar dikirim oleh kaisar Bizantium dan oleh raja-raja Jerman, Italia, dan Perancis untuk menghadapinya.  
(3)   Periode ketiga 1031-1492, saat umat Islam terpecah dan menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Periode ini ada tiga masa :
a.       Masa kerajaan-kerajaan kecil yang sifatnya lokal tahun 1031-1086 M, jumlahnya sekitar 20 buah. Masa ini disebut Muluk al-Thawaif (raja golongan). Mereka mendirikan kerajaan berdasarkan etnis seperti Bani Abbad di Sevilla, Bani Hud di Saragosa, Bani zun-zun di Toledo, Bani Ziri di Granada, dan Bani Hammud di Cordova dan Malaga (Ensiklopedi Islam, 2002, 146), Barbar, Slovia, atau Andalus yang bertikai satu dengan yang lain sehingga menimbulkan keberanian umat Kristen di Utara untuk menyerang. Ada juga yang mengundang bangsa Barbar dari Afrika Utara. Karena itu terjadi ketidakstabilan politik. Namun dalam bidang peradaban mengalami kemajuan karena masing-masing ibu kota kerajaan lokal ingin menyaingi kemajuan Cordova. Muncullah kota-kota besar Toledo, Sevilla, Malaga, dan Granada.
b.      Masa antara tahun 1086-1235 M, ketika umat Islam Andalusia di bawah kekuasaan bangsa Barbar Afrika Utara. Mula-mula bangsa Barbar dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin mendirikan daulah Murabithin, kemudian datang ke Andalusia menolong umat Islam Andalus mengusir umat Kristen yang menyerang Sevilla pada tahun 1086 M, kemudian menggabungkan Muluk al-Thawaif  ke dalam dinasti yang dipimpinnya hingga tahun 1143 M, ketika dinasti ini melemah digantikan oleh dinasti Barbar lain Al-Muwahhidin(1146-1235 M). Dinasti ini datang ke Andalusia dipimpin oleh Abd al-Mu’min. Pada masa putranya AbuYa’kub Yusuf bin Abd al-Mu’min(1163-1184 M) Andalus mengalami kejayaan. Namun, sepeninggal sultan al-Muwahhidin mengalami kelemahan. Paus Innocent III menghasut raja-raja Kristen untuk mengadakan penaklukan kembali (reconquista). Dalam perang al-Uqab di Las Nafas (1212 M) pasukan Kristen yang dipimpin Alfonso VIII dari Castilla memperoleh kemenangan. Seiring dengan itu daulah Muwahhidin mundur baik di Andalusia maupun di Afrika Utara. Andalus menyerang hingga Cordova jatuh pada tahun 1236 M. Umat Islam Andalus jatuh di bawah kekuasaan Kristen, kecuali Granada yang dikuasai Bani Ahmar.
c.       Masa antara tahun 1232-1492 M, saat Umat Islam Andalus bertahan di wilayah Granada di bawah kekuasaan Bani Ahmar. Pendiri dinasti ini adalah Sultan Muhammad bin Yusuf bergelar al-Nasr, makanya kerajaannya dinamakan Nasriyyah. Kerajaan ini merupakan kerajaan terakhir umat Islam Andalus yang berkuasa di wilayah antara Almeria dan Gibraltar, pesisir tenggara Andalusia. Dinasti ini dapat bertahan karena dilingkupi oleh bukit sebagai pertahanan dan mempunyai hubungan yang dekat dengan negeri Islam Afrika Utara yang waktu itu di bawah kerajaan Marin. Ditambah lagi Granada sebagai tempat pelarian tentara dan umat Islam dari wilayah selain Andalus, ketika itu dikuasai oleh Kristen. Pada decade terakhir abad XIV M dinasti ini telah lemah akibat perebutan kekuasaan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh kerajaan Kristenyang telah mempersatukan diri melalui pernikahan antara Esabella dari Aragon dengan raja Ferdinand dari Castilla untuk bersama-sama merebut kerajaan Granada. Pada tahun 1487 mereka dapat merebut Malaga, tahun 1489 M menguasai Almeria, tahun 1492 menguasai Granada, raja terakhir Granada Abu Abdullah melarikan diri ke Afrika Utara.
Gerakan reconquista terus berlanjut. Tahun 1499 kerajaan Kristen Granada melakukan pemaksaan orang Islam untuk memeluk Kristen. Buku-buku tentang Islam dibakar. Tahun 1502 M kerajaan Kristen ini mengeluarkan perintah supaya orang Islam Granada keluar dari negeri itu, kalau tidak mau menukar agama menjadi Kristen. Umat Islam harus memilih antara masuk Kristen atau keluar dari Andalus sebagai orang terusir. Banyak orang Islam yang menyembunyikan keIslamannya melahirkan keKristenannya. Timbul juga pemberontakan, pada tahun 1596 M sekali lagi orang Islam Granada dengan dibantu kerajaan Otsmaniyah memberontak pemerintahan. Sekitar tahun 1604-1614 M kira-kira 1,5 juta umat Islam Spanyol pindah ke Afrika Utara dan ini yang terakhir kali pindah.        
 Demikianlah kondisi sejarah pasang surut daulah-daulah umat Islam di dunia dalam perspektif sosial-politik, Meskipun posisinya tidak menentu, selama 2,5 abad Granada menjadi pusat peradaban Muslim, yang menarik perhatian cendekiawan dan sastrawan dari segenap penjuru Barat Muslim. Sejarahwan Ibn Khaldun pernah menjadi diplomatnya Muhammad VI, dan wazir Lisanuddin Ibn al-Khatib, yang sejarahnya tentang Granada menjadi sumber yang amat penting. Nashriyah Granada mencetak seorang tokoh besar sastra (Bosworth, 1993:41). Taqdir dan nasib umat Islam saat itu mundur, dan masih terasa sampai sekarang di banding Eropa, selanjutnya umat Islam ke depan bagaimana memandang sejarah ini sebagai pijakan langkah untuk spirit bisa menuju masa the age golden terulang kembali.    

BAB III
PENUTUP
 Penulis dalam bagian kesimpulan ini memberi pendapat tentang permasalahan wacana sejarah peradaban Islam di Andalusia beberapa catatan. Pertama, tentang latar belakang perebutan kekuasaan revolusioner antara bani Abbasiyah dengan bani Umayyah dengan pertumpahan darah sesama saudara muslim patut dikutuk dan tidak perlu terjadi kembali, jika hanya demi menjaga motif nama golongan tertentu. Meskipun ini semua juga memberi dampak positif juga ke dalam perkembangan pemikiran Islam. 
Pada saat daulah Umayyah I jatuh, dan digantikan daulah Abbasiyah, maka amir wilayah Andalusia menyatakan tunduk kepada kekuasaan pusat di Baghdad, anehnya setiap kali pergatian amir di sana, penguasa Baghdad mengakui dan meresmikan saja setiap kali pergantian amir. Dalam hemat penulis, hal ini dikarenakan Khalifah di Baghdad kurang  kuat kedaulatannya memberi respon, Nampak sebenarnya di awal pemerintahan Abbasyah di awal pun sudah terjadi “penggoyangan” pemerintahannya dan ini hampir di setiap pemerintahan khalifahnya. Peran umat Islam dengan masuknya ke Andalusia secara sosial kemasyarakatan  menyumbangkan ide besar bagi perkembangan umat dunia di Islam sendiri untuk mengantarkan kekuatan Islam dengan kejayaannya, dan tentunya Eropa dalam menyambut renaissancenya.


DAFTAR PUSTAKA
Ali, 1995, Studi Sejarah Islam, Adang Affandy penj., Bandung: Bina Cipta
                                                                                              
Bosworth, 1993, Dinasti-dinasti Islam, Ilyas Hasan penj., Jakarta: Mizan, Cet., I.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 2002, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Icthiar Baru Van Hoeve.

Ismail, Faisal, 1997, Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis dan Refleksi Historis, Yogyakarta: Titian Ilahi Press, Cet.,II.

Jami’ah al-Imam Muhammad Ibn Su’ud, 1994, Silsilatul  ta’limi al-Lughoh al-‘Arobiyyah: al-Mustawa al-Robi’ al-Adab, al-Riyadh: al-Jami’ah.

_______, 1994, Silsilatul  ta’limi al-Lughoh al-‘Arobiyyah: al-Mustawa al-Robi’ al-Tarih al-Islami, al-Riyadh: al-Jami’ah.

Karim, M.Abdul, 2007, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, Cet., I.

Nata, Abuddin, 2010, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Cet.,II

Sunanto, Musyrifah, 2003, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, Jakarta: Kencana.

Suwito, 2005, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, Cet., I.

Thohir, Ajid, 2004, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar-akar Sejarah Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Cet.,I.


Watt, M. Montgomerry, 1972, The Influence of Islam on Medievel Europe,  British: Great Britain

Komentar

Postingan Populer