seri manajemen pendidikan
DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN
Oleh :
Nafiul Lubab
I.
Latar Belakang
Masalah
Dialektika zaman dengan perkembangan
pengetahuan manusia di era globalisasi sangat bergerak cepat. Terlibat di
dalamnya tentang persoalan lembaga pendidikan (baca juga: sekolah/madrasah) sebagai
poros lembaga penentu yang ikut andil dalam kebijakan sisi-sisi kehidupan
manusia. Idealisme pendidikan selalu diinovasi dengan teori-teori mutakhir yang
terus tiada terhenti untuk menggapai tujuannya. Tuntutan untuk segera
diterapkan lembaga pendidikan yang sesuai dengan pangsa pasar masyarakat sangat
dibutuhkan keberadaannya, jika tidak
maka lambat laun lembaga tersebut akan
ditinggalkan siswa-siswanya dan kemudian tergerus hanya tinggal nama belaka.
Reposisi lembaga pendidikan agar survive dalam suatu sistem, dapat ditinjau
dari segi intern dan eksternnya. Secara intern lembaga pendidikan merupakan
sebuah organisasi yang berupa unit sosial dengan sengaja dibentuk oleh beberapa
orang yang di dalamnya berkoordinasi untuk bekerja mencapai tujuannya. Personal
dalam sekolah/madrash tersebut adalah kepala sekolah, tenaga pendidik,
administrator, pegawai, peserta didik, dan termasuk di dalamnya
fasilitas laboratorium, perpustakaan serta sarana prasarana pembelajaran
lainnya. Ini semua tidak akan bermakna, jika tidak ada perhatian serius
dan optimal terhadap manajemen lembaganya. Misalnya kehadiran guru mengajar dan
staff administrasi tidak sering bolos, Dengan demikian manajemen sangat urgen
dalam perubahan menuju perbaikan lembaga tersebut (Rosyada, 2007 :213).
dalam perubahan menuju perbaikan lembaga tersebut (Rosyada, 2007 :213).
Sementara di sisi lain, secara ekstern
adanya hubungan antara lembaga pendidikan dengan harapan stakeholder
harus terus terpupuk, supaya memahami berbagai harapan dan kebutuhannya ( Prabowo,
2008: ).
Kerjasama ekstern sekolah ini sebagai evalusai menggagas pengembangan
dirinya secara internal, jadi tanpa melibatkan stakeholder di luar sekolah/madrasah akan tidak ada
masukan pertimbangan-pertimbangan aturan yang ideal, norma dan kenyataan di
lapangan (Rosyada, 2007:220).
Sebenarnya bukan hanya berhenti di situ, permasalahan kasus manajemen
sendiri dalam implementasinya banyak mengalami kejanggalan. Pengertian efektif
dan efisien tidak sedikit dan sering dimaknai dalam lapangan adalah manajemen
jalan pintas bukan proses, asal Bapak senang, sendiko dawuh, atau “partnership”
penuh kolusi, atau juga nepotisme kronis.[1]
Selanjutnya dalam paparan tersebut, penulis hendak mengkaji bagaimana
implementasi fungsi-fungsi manajemen tersebut dalam aturan-aturan aktivitas di
lembaga pendidikan yang notabene-nya sekolah/madrasah. Pembahasannya sebagaimana
menjelaskan ruang lingkup kajian manajemen
pendidikan menurut fungsi manajemennya. Di
sinilah perlu adanya mentalitas kerja interaktif tim-work dan kerja
kolektif menjalankan roda lembaga pendidikan agar tetap berjalan
terjaga berkelindan (Jawwad, 2006: 9-10) dengan memperhatikan fungsi-fungsi
manajemen agar tercapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.
II.
Pembahasan
1. Pengertian Fungsi Manajemen dan Lembaga Pendidikan
Secara garis besar ilmu manajemen menurut teorinya terbagi 3 aliran; aliran
klasik, neo-klasik, dan modern, di mana aliran ini mempengaruhi perkembangan
fungsi-fungsi manajemen. Dalam aliran klasik manusia itu sifatnya rasional,
berfikir logik, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan.[2] Terlepas dari kelebihan dan kelemahannya teori
klasik ini bertumpu pada teori manajemen ilmiah dan teori birokrasi, sedikit
banyak masih diterapkan sampai sekarang secara prasktis. Perkembangan berikutnya
teori Neo-klasik, teori ini memperkuat teori klasik dengan wawasan sosiologi
dan psikologi, dengan peralihan orientasi lebih ke manusia, yakni dengan berasumsi
bahwa manusia mahluk sosial dengan mengaktualisasikan dirinya.[3] Dan terakhir, teori modern yang bersifat
lebih kompleks, pendekatannya pun menggunakan pendekatan sistem mendasarkan
pada situasional yang lebih terbuka. Teori ini memiliki 3 ciri: (1) analisis
sistem, (2) rancangan sistem, dan (3) manajemen pendekatan sistem[4] (Fattah, 2004: 22- 32).
Dalam perkembangan saat ini, sebagaimana bukunya Suharsimi Arikunto dan
Yuliana (2008: 6) fungsi manajemen diartikan dengan kegaiatan yang enam, yaitu
: (1) merencanakan, (2) mengorganisasikan, (3)mengarahkan, (4)
mengkoordinasikan, (5) mengkomunisasikan dan (6) mengawasi atau mengevaluasi. Sementara
di sisi lain, Hikmat (2009:30) dalam bukunya Manajemen Pendidikan
menguraikan fungsi manajemen dengan bagannya sebagai berikut :
No
|
Nama ahli
|
Fungsi-fungsi manajemen
|
1
|
Louis A. Allen
|
Leading, planning, organizing, controlling.
|
2
|
Prajudi Atmosudirjo
|
planning, organizing, directing, actuating, controlling
|
3
|
John R Beishline
|
planning, organizing, commanding, controlling.
|
4
|
Henry Fayol
|
planning, organizing, commanding, coordinating,
controlling
|
5
|
Luther Gullich
|
planning, organizing, staffing, directing,
coordinating, reporting, budgeting
|
6
|
Kontz dan O’Donnel
|
Organizing, staffing, directing, planning,
controlling
|
7
|
William H.Newman
|
planning, organizing, assembling resources,
directing, controlling
|
8
|
Sondang P. Siagaan
|
planning, organizing, motivating, controlling
|
9
|
George R Terry
|
planning, organizing, actuating, controlling
|
10
|
Lyndal F.Urwick
|
Forecasting, planning, organizing, commanding,
coordinating, controlling
|
11
|
Winardi
|
planning, organizing, coordinating,
actuating, leading, communicating, controlling
|
12
|
The Liang Gie
|
planning, decision making, directing,
coordinating, controlling, improving
|
13
|
Jhon D Millet
|
Directing and facilating
|
Fungsi-fungsi manajemen di atas memberikan gambaran variasinya dalam
pemetaan implementasi fungsi manajemen menurut masing-masing tokoh manajemen.
Pandangan penulis, untuk merepresentasi dari beberapa pendapat di atas lebih
menitik beratkan pada pendapat fungsi manajemen menurut Husaini Usman (2006:10)
dalam bukunya Manajemen Teori,
Praktik, dan Riset Pendidikan menjelaskan
bahwa fungsi manajemen ada 4 : (1) perencanaan, (2) pengorganisasian, (3)
pengarahan (motivasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, komunikasi,
koordinasi dan negosiasi, serta pengembangan organisasi), dan (4) pengendalian
meliputi pemantauan (monitoring), penilaian(evaluation), dan
pelaporan.
Dalam kajian manajemen ini terbatas pada manajemen yang ada dalam lembaga
pendidikan formal. Manajemen lembaga sekolah adalah tinjauan sekolah efektif
dari sudut penataan yang dilakukan kepala sekolah terhadap bidang-bidang
garapan sekolah, yaitu kesiswaan, ketenagaan, kurikulum, sarana prasarana,
keuangan, dan kemitraan sekolah dengan masyarakat (Komariah, 2005 :54). Manajemen
pendidikan adalah suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan berupa proses
pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergolong dalam organisasi
pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah diterapkan sebelumnya,
agar efektif dan efisien (Arikunto, 2008:4). Lalu lembaga pendidikan yang
dimaksud adalah pendidikan formal yaitu sistem lembaga yang bertingkat
mempunyai struktur hierarkis yang mencakup jenjang pendidikan dasar, menengah,
dan tinggi (Fattah, 2004:50). Dengan definisi di atas penulis menyimpulkan
bahwa maksud dari pengertian fungsi manajemen dalam lembaga pendidikan adalah
bagaimana lembaga pendidikan menerapkan atau melakukan aktivitas aturan-aturan
yang ada dalam fungsi manajemen.
2. Fungsi Manajemen Pada Lembaga Pendidikan
a. Perencanaan
Perencanaan dalam istilah bahasa Inggris berasal dari kata plan,
artinya rencana, rancangan, maksud atau niat (Hikmat, 2009: 101). Pengertian
secara istilah perencanaan adalah suatu proses mempersiapkan serangkaian
keputusan untuk mengambil tindakan yang akan datang, yang diarahkan kepada
tercapainya tujuan-tujuan dengan sarana yang optimal. Perencanaan ini
menyangkut apa yang akan dilkasanakan, kapan dilaksanakan, oleh siapa, di mana,
dan bagaimana dilaksanakannya (Arikunto, 2008:9).
Kemudian perencanaan pendidikan adalah kegiatan yang berkaitan dengan usaha
merumuskan program pendidikan yang di dalamnya memuat segala sesutau yang akan
dilaksanakan, penentuan tujuan pendidikan, kebijaksanaan dalam pendidikan, arah
yang akan ditempuh dalam kegiatan pendidikan, prosedur, dan metode yang akan
diikuti dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan. Arti yang lain dari
perencanaan pendidikan adalah keseluruhan proses perkiraan dan penentuan secara
matang hal-hal yang akan dikerjakan dalam pendidikan untuk masa yang akan
datang dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan (Hikmat,
2009: 101).
Sementara bahasan pembicaraan perencanaan pendidikan adalah desain
kurikulum, penentuan jadwal kegiatan pembelajaran, penentuan tenaga pengajar,
pembuatan team teaching, perumusan dan teknik pembuatan satuan acara
pembelajaran, strategi pembelajaran, pola evaluasi, rapat-rapat, dan berbagai
kegiatan lainnya yang direncanakan dengan matang (Hikmat, 2009:102). Jadi yang
direncanakan harus benar-benar masalah pendidikan, setelah masalahnya
ditetapkan, pembuat rencana menentukan waktu, tempat dan metode pembuatan
rencananya.
Merumuskan perencanaan pendidikan merupakan hal yang amat penting, karena
perencanaan ini berkaitan dengan fasilitas, sarana prasarana. Perencanaan
pendidikan yang tidak proporsional akan mempersulit gerak kegiatan pendidikan
yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, ada beberapa pertimbangan perencanaan
pendidikan yang baik menurut ilmu manajemen, yaitu (Hikmat, 2009: 115):
1. Dibuat sederhana dan mudah dipahami serta dilaksanakan. Secara praktis,
pembuatan desain kurikulum, mata kuliah, metode, dan strategi pembelajaran
diarahkan pada tujuan yang jelas, baik kognitif, afektif maupun ranah
psikomotorik.
2. Rencana fleksibel dalm menghadapi keadaan. Contoh, kurikulum muatan lokal
tempat lembaga pendidikan itu berada, sehingga pandangan tentang pendidikan
berakar dario kebudayaan setempat.
3. Tersedia tempat pengambilan resiko. Setiap perencanaan diperhitungkan
untung ruginya, dengan demikian solusi alternatif masalah telah disiapkan.
4. Pragmatis dan penuh pertimbangan. Pragmatis dimaknai dengan manfaat yang
akan diperoleh bagi kepentingan hidup manusia, secara material, marol, dan
spritual.
5. Standar optimalisasi hasil pelaksanaannya jelas terukur. Lembaga pendidikan
yang belum memenuhi standar kualifikasi dan akreditasi harus mendahulukan
perencanaan yang akan mendukung pemenuhan standar kualifikasi dan akreditasi,
sehingga masa depan lembaga ke depanmudah diprediksi.
Langkah-langkah dalam menyusun perencanaan pendidikan sebagaimana dipaparkan Yusak Burhanuddin
(2004:41) antara lain adalah:
1. Menentukan persoalan yang dihadapi, kapan, dan bagaimana cara mengatasinya
2. Perumusan tujuan dan tindakan untuk mencapai afektifitas dan efisiensi
operasi dalam mewujudkan tujuan dengan menetapkan sasaran-sasaran.
3. Mengumpulkan dan menganalisis informasi yang relevan
4. Memilih alternatif-alternatif
5. Menyusun rencana anggaran biaya
6. Menyiapkan dan mengkomunikasikan rencana dan keputusan-keputusan
Manfaat perencanaan pendidikan (Hikmat, 2009: 108-109) yaitu: (1) menghilangkan
ketidakpastian sasaran dan tujuan pendidikan, (2) menjadi dasar penjabaran (3)
adanya usaha untuk menyediakan sarana dan prasarana kegiatan yang disesuaikan
dengan rencana, (4) memberikan gambaran yang jelas dan lengkap mengenai
kegiatan pendidikan yang akan dilaksanakan, (5) adanya penentuan tujuan lembaga
pendidikan sebagai tolok ukur perencanaan pendidikan sesuai dengan tingkatan
dan jarak tempuh pelaksanaan pendidikan, dan lain sebagainya.
Kesulitan dalam menghadapi perencanaan pendidikan (Purwanto, 1990: 24):
1. Perencana kurang ahli
2. Kurang wewenang dalam menyusun perencanaan
3. Tenaga teknis dari perencanaan kurang cakap
4. Kurangnya dana dalam perencanaan
5. Tidak ada dukungan (intern maupun ekstern)
6. Terjadinya perubahan situasi secara drastis.
Faktor kesulitan perencanaan ini juga didukung dengan pendapat dari Husaini
Usman (2006: 124-125) dengan menekankan pada sisi kepala sekolah yang kurang
memahami perencanaan pendidikan. Maka tidak heran tenggelam dengan manajemen
jalan pintas atau juga karena faktor birokrat yang korup dan menghambat
prosedur perencanaan.
Demikianlah deskripsi perencanaan pendidikan dalam lembaga pendidikan.
Selain hal di atas skope perencanaan pendidikan dalam batasan nasional bisa
dipengaruhi oleh faktor pertimbangan ekonomi, politik, sosial lingkungan
masyarakat berada. Perencanaannya memerlukan kajian ketelitian supaya rencana
tersebut tidak menyusahkan atau memberatkan lembaga pendidikan tersebut ke
depannya. Biasanya dalam awal proses dalam perencanaan senang berkumpul-kumpul
dan kaya ide dan muluk-muluk serta penuh antusias. Hal tersebut tidak realistis
dengan lapangan yang ada. Pada tahap pelaksanaan berikutnya semangat tersebut
hilang dan rencana hanya terberkas di kertas semata. Mungkin semua pikiran dan
tenaga terkuras dalam perencanaan, sehingga meneruskan pekerjaan selajutnya hilang
tenaga, lalu rencana tinggal rencana.
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah adanya usaha bersama oleh sekelompok orang untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, dengan mendayagunakan
sumber-sumber yang ada agar dicapai hasil yang efektif dan efisien (Arikunto,
2008: 10). Dalam pengorganisian lembaga pendidikan ini ditetapkan pembagian
tugas, wewenang, dan tanggungjawab sesuai bidangnya, sehingga membangun
kerjasama yang sinergis, kooperatif, harmonis, dan seirama dalam mencapai
tujuan yang disepakati (Hikmat, 2009: 118-119).
Beberapa hal yang perlu diperhatiakan dalam menjalankan pengorganisasian
adalah (Hikmat, 2009: 119):
1. Menyediakan fasilitas dan staf yang diperlukan untuk menyusun rencana
2. Mengelompokkan dan membagi kerja menjadi struktur organisasi yang teratur
3. Membentuk struktur kewenangan dan mekanisme koordinasi
4. Menentukan metode kerja dan prosedurnya
5. Memilih, melatih, dan memberi informasi kepada staf.
Fungsi pengorganisasian adalah (Hikmat, 2009:119):
1. Fungsi strukturalis, menetapkan struktur kepegawaian, terutama dalam
penyusunan dan penempatan personal, pekerjaan, material, dan pikiran-pikiran di
dalam struktur itu. Struktur pengurus disusun secara hierarkis, ada atasan
dan bawahan. Misalnya dari kepala
sekolah sampai pegawai kebersihan.
2. Fungsi relationship, menjalin hubungan dengan pihak eksternal lembaga
dengan mempertegas tugas, fungsi, kewajiban-kewajiban, hak-hak, dan
tanggungjawab masing-masing anggota, yang disusun menjadi pola-pola kegiatan
yang tertuju pada tercapainya tujuan pendidikan.
3. Fungsi integritas, lembaga pendidikan adalah wadah aktivitas-aktivitas yang
menyusun dan membentuk hubungan-hubungan fungsional, sehingga terwujud kesatuan
usaha dalam mencapai maksud-maksud dan tujuan-tujuan pendidikan.
Sifat kompleks yang terdapat dalam program organisasi menunjukkan sangat
perlunya tindakan-tindakan yang dikoordinasi. Koordinasi di sini untuk
mengatasi kemungkinan adanya duplikasi dalam tugas, pelaksanaan kegiatan yang
tumpang tindih, perebutan hak dan tanggungjawab, ketidak seimbangan dalam
berat-ringannya pekerjaan, kesimpangsiuran dalam menjalankan tugas dan
kewajiban, yang mengarah pada pemborosan waktu dan biaya. Namun demikian tidak
boleh dalam pengorganisasian menimbulkan birokratisasi yang kaku, ketat, dan
terkesan dipaksakan, sebab ini mengakibatkan etos kerja para pegawainya.
Personil di sekolah ditinjau dari tugasnya adalah: (1) tenaga pendidik
terdiri atas pembimbing, penguji, pengajar, dan pelatih, (2) tenaga fungsional
kependidikan terdiri atas penilik, pengawas, peneliti dan pengembang di bidang
pendidikan dan pustakawan, (3) tenaga teknis kependidikan terdiri atas laboran
dan teknisi sumber belajar, (4) tenaga pengelola satuan pendidikan terdiri atas
kepala sekolah, direktur, ketua dan satuan pendidikan luar sekolah, dan (5)
tenaga administratif: staf tata usaha di lembaga negeri ada pegawai tetap, pada
lembaga swasta ada pegawai yang diperbantukan, pegawai yayasan, dan pegawai
honorer. Berdasarkan perbedaan status ini, maka kewajiban dan tugasnya pun
berbeda (Arikunto, 2008: 216).
Bagan struktur organisasi sekolah/madrasah (Usman, 2006:157)

Perlu dikaji juga perilaku individu dalam organisasi ini, kadang orientasi
berubah-ubah, bahkan mendua sesuai dengan situasi emosinya pada suatu tempat.
Seseorang berorientasi pada kepentingan diri sendiri dapat pula berubah dengan
segera berorientasi pada tugas atau pembinaan kelompok setelah mendapat umpan
balik dari individu lainnya atau semakin matangnya seseorang dalam
berorganisasi.
Pengorganisasian semestinya memperhatikan
fungsi-fungsi utama dalam organisasi yang dicirikan sebagai berikut : (1)
pengorganisasian diarahkan pada tujuan yang jelas, (2) tiap anggota memahami
dan menerima tujuan tersebut, (3) adanya kesatuan arah, kesatuan tindakan, dan
pikiran, (4) adanya kesatuan perintah dari atasan langsung, darinya ia menerima
perintah atau bimbingan, dan ia mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya. Di
sini acuan perintah adalah AD/ART yang telah disepakati, sehingga tidak
terkesan pemanfaatan kekuasaan, otoriter, dan menimbulkan protes yang
mengakibatkan jatuhnya wibawa dan kedudukanna, (5) adanya pembagian tugas yang
sesuai dengan keahlian, kemampuan, dan bakat masing-masing, (6) penghargaan
kepada setiap pekerjaan yang dilakukan oleh anggota, terutama insentif, reward,
atau bonus prestasi, sehingga menimbulkan gairah kerja, dan lain sebagainya.
c. Pengarahan
Pengarahan sebagaimana di atas terdiri (motivasi, kepemimpinan, pengambilan
keputusan, komunikasi, koordinasi dan negosiasi, serta pengembangan organisasi).
Dalam hal ini, penulis hanya membahas pengarahan dari segi koordinasi dan komunikasi.
c.1. Pengkoordinasiaan
semenjak organisasi dibentuk, personal yang ada dalam organisasi melakukan
pembagian tugasnya masing-masing. Usaha mereka untuk mencapai tujuan organisasi
secara efisien dan efektif memerlukan koordinasi. Fungsi koordinasi dalam
organisasi diibaratkan seperti orkes simfoni yang mengahasilkan melodi yang
merdu. Masing-masing anggota memerankan alat musiknya sesuai fungsinya. Pengkoordinasiaan yaitu suatu usaha yang
dilakukan pimpinan untuk mengatur, menyatukan, menserasikan, mengintegrasikan
semua kegiatan yang dilakukan bawahan.
Kepala sekolah dan guru berasal dari profesi yang sama, yaitu sama-sama
dari latar belakang pendidikan keguruan yang sama. Profesional guru menuntut
otonomi dalam pelaksanaan proses pembelajaran bagi siswa-siswanya. Jadi
koordinasi guru dengan kepala sekolah berbeda dengan koordinasi antara atasan
dan bawahan dalam sebuah instansi pemerintah
atau perusahaan industri.
Macam-macam koordinasi (Usman, 2006: 365-367):
(1) keadaan saling bergantungan yang disatukan (pooled interdependence),
yaitu apabila individu atau unit organisasi tidak bergantung satu sama lainnya
untuk melaksanakan tugas sehari-hari, tetapi bergantung kepada pelaksanaan
pekerjaan yang memadai dari masing-masing individu atau unit untuk kelangsungan
hidupnya. Misalnya wakil kurikulum berkoordinasi dengan wakil sarana prasarana
tentang pengadaan bahan-bahan alat peraga. Wakil kurikulum akan berfungsi dalam
keadaan saling bergantung secara penuh kepada wakil sarana prasarana.
(2) keadaan saling bergantungan berurutan (sequential interdependence),
adalah individu-individu atau suatu unit sekolah harus bertindak sebelum unit
sekolah berikutnya atau lainnya dapat bertindak. Contoh penilaian kerja guru
oleh kepala sekolah, menanti pelaksanaan
kerja selesai, sedangkan pelaksanaan kerja menanti perencanaan kerja selesai.
(3) keadaan saling bergantungan timbal balik (reciprocal interdependence),
ialah individu atau unit sekolah saling bergantung dalam menyelesaikan
tugas-tugasnya. Contoh: untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, sekolah
melaksanakan PBM dengan sebaik-baiknya, bersamaan dengan itu kepala sekolah melalui
bagian sarana prasarana KBM memenuhi kebutuhan siswa dan gurunya, dan guru BP
memberitahu orang tua siswa agar memotivasi dan membina anak-anaknya agar rajin
belajar.
Pembahasan tentang macam-macam korodinasi di atas, dapat lebih detailnya menggunakan
tiga pendekatan koordinasi yang terangkum dalam bagan berikut ini :
1. Teknik-teknik manajemen yang asasi ada 3 :
Hierarki manajerial peraturan dan prosedur rencana dan tujuan
![]() |
2. Meningkatkan kesanggupan 3.
Mengurangi kebutuhan
pengoordinasian: pengoordinasian :
Tujuan dan manfaat koordinasi (Usman, 2006: 362) adalah: (1) mencegah terjadinya
kekosongan ruang dan waktu, (2) mencegah terjadinya persaingan yang tidak
sehat, (3) mencegah terjadinya konflik internal dan eksternal sekolah yang
kontradiktif, (4) untuk memperlancar tugas dalam rangka mencapai tujuan, (5)
memecahkan konflik kepentingan berbagai pihak yang terkait, (6) membangun
hubungan yang baik dan harmonis dan sebagainya.
Masalah-masalah koordinasi dapat disebabkan dua hal (Usman, 2006:380-381): (1)
situasi organisasi, seperti beberapa kegiatan di sekolah diselesaikan dengan
waktu yang berlainan. Ada kegiatan yang diselesaikan dengan cepat, dan kegiatan
lain diselesaikan dengan waktu yang lama atau mungkin kendala geografis yang
berjauhan, sehingga memakan waktu yang menimbulkan kerja tidak efektif dan
efesien, dan (2) faktor manusia, misalnya :
- persaingan sumber daya, kepala sekolah dituntutarif dan adil dalam membagi
sumber daya yang terbatas sehingga kelompok-kelompok merasa diperlakukan secara
adil.
- perbedaan status dan arus pekerjaan, guru menegur kepala sekolah yang
kurang adil tindakannya, tetapi atasan tersebut tersinggung dengan teguran
tersebut. Akhirnya koordinasi kurang berjalan dengan baik.
c.2. Pengkomunikasiaan
Komunikasi adalah suatu usaha yang dilakukan oleh pimpinan lembaga untuk
menyebarluaskan informasi yang terjadi di dalam maupun hal-hal di luar lembaga
yang ada kaitannya dengan kelancaran tugas dan mencapai tujuan bersama
(Arikunto, 2008: 12). Penelitian seorang pakar menyimpulkan bahwa sekitar
75%-90% waktu kerja digunakan pimpinann untuk berkomunikasi. Seorang leader
atau manajer melakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, maupun
pengendalian dan sebagainya dengan komunikasi kepada bawahannya, demikian pula
dengan personal sekolahan (Usman, 2006:345).
Tujuan dan manfaat komunikasi: (1) meningkatkan manajerial dan hubungan sosial, (2)
menyampaikan dan atau menerima informasi, (3) menyampaikan dan menjawab
pertanyaan, (4) mengubah perilaku (pola pikir, perasaan, dan tindakan) melalui
fungsi manajemen, (5) mengubah keadaan sosial (Usman, 2006:346).
Prinsip komunikasi yang harus dilakukan komunikator adalah : (1) penuh minat
terhadap materi pesan, (2) menarik perhatian bagi komunikan, (3) dilengkapi
alat peraga, (4) menguasai materi pesan, (5) mengulangi bagian yang penting,
(6) memiliki kegunaan, (7) tidak menganggap setiap orang paham terhadap pesan
yang diberikan (Usman, 2006: 351).
Hambatan komunikasi : hambatan dapat berupa psikologis, seperti minat,
kepercayaan, inteligensi, dan pengetahuan, biasanya prestasi peserta didik
dipengaruhi oleh minat pelajaran tertentu dan gurunya. Secara fisik misalnya
sakit, kelelahan, dan cacat. Kemudian
secara kultural seperti mengangguk di Indonesia sebagai tanda setuju, lain
halnya di India mengangguk tanda tidak setuju. Lalu, hambatan komunikasi
lainnya yaitu: (1) komunikator menggunakan bahasa yang susah dipahami, (2)
perbedaan persepsi akibat latar belakang, (3) terjemahan yang salah, (4) tidak
jujur dan sebagainya (Usman, 2006:352-353).
![]() |

d. Pengendalian , meliputi pemantauan (monitoring), penilaian(evaluation),
dan pelaporan
pengevaluasiaan
Evaluasi sebagai fungsi manajemen adalah
aktivitas untuk meneliti dan mengetahui pelaksanaan yang telah dilakukan dalam
proses keseluruhan organisasi mencapai hasil sesuai dengan rencana atau program
yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan (Hikmat, 2009: 125).
Sedangkan fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui (Hikmat, 2009: 126) :
1. perkembangan prestasi anak didik
2. Baik-buruk, tepat tidaknya metode pembelajaran yang diterapkan oleh
pendidik
3. Kemampuan, minat, dan bakat anak didik dalam bidang studi atau jurusan yang
dipilihnya
4. Profesionalitas para pendidik
5. Ketepatan kurikulum yang dijadikan rujukan pembelajaran
6. Strategi pembelajaran yang baik dan tepat untuk diterapkan
7. Efektifitas, pelaksanaan kegiatan pembelajaran
8. Kondisi objektif para pendidik dan anak didik berkaitan dengan tugas dan
fungsi masing-masing atau mengenai hak dan kewajibannya.
Menurut Mayoemi Otsubo, manajer turnamen dan promosi peristiwa khusus pada
Bridgestone Tire Co., jepang adalah lembaga yang berorientasi pada proses,
sedangkan Amerika Serikat adalah lembaga yang berorientasi hasil. Misalnya
mengkaji prestasi karyawan, manajemen Jepang cenderung memperhatikan fsktor
sikap. Bila manajer penjualan mengevaluasi prestasi seorang wiraniaga, hal itu
harus melibatkan orientasi proses sepeerti jumlah waktu, mencari pelanggan
baru, mengunjungi pelanggan di luar kota. Di Amerika tidak peduli bagaimana
giatnya seorang bekerja, berkurangnya hasil mengakibatkan penilaian pribadi
berkurang, buruk dan rendah. Sumbangan pribadi hanya dihargai untuk hasil yang
nyata (Imai, 1996: 15-16).
3. Reposisi Lembaga Pendidikan Dalam Sistem Fungsi Manajemen
Lembaga pendidikan sebagai suatu
organisasi mau tidak mau harus membuka diri sebagai sistem terbuka.[7] Apalagi diberlakukannya otonomi sekolah, yang
merubah dinamika sekolah. Personil sekolah diberikan pro-aktif dalam menentukan
berbagai kebijakan kepentingan sekolah, seperti dengan adanya komite sekolah.
Kepala sekolahpun merasa memiliki jati diri dengan adanya otonomi sekolah (Siahaan,
2006:107-108)
Pengelolaan
Gambar kinerja sekolah
Sekolah sebagai suatu sistem dengan pendekatan contex-input-process-product-outcame
(CIPP dan outcome). Sekolah mengharapkan hasil/produk bukan semata-mata
keluaran secara kuantitatif, akan tetapi kualitatif berupa outcome yang
bermanfaat bagi masyarakat (Komariah, 2005:1). Amiruddin Siahaan dkk (2006:114)
mengutip pendapatnya Gaustad menjelaskan bahwa kepala sekolah merupakan peran
kunci dalam menegakkan disiplin sekolah melalui kemampuannya dalam mengelola
sekolah, memberikan teladan kepada siswa dan guru, serta melakukan
teknik-teknik “social rewards” kepada siswa dan guru. Tentunya dalam hal
pengelolaan sekolah tersebut tidak lepas dari fungsi-fungsi manajemen. Seperti
perencanaan, perencanaan bukan merencanakan tapi membuat mufakat untuk
musyawarah, tiap guru sebagai anggota penentu lembaga pendidikan ada rasa ewuh
pakewuh dengan kepala sekolah. Hampir setiap keputusan, tidak berani mengatakan
suatu yang tidak, demi menjaga keharmonisan hubungan, meskipun mengatakan tidak
sepakat, tentu ada resiko di belakang, semacam ada gap kelompok antar guru yang
pro dengan atasan dan yang selalu kontra dengan atasan. Inilah sebenarnya
konflik yang sering ditemui dalanm manajerial lembaga pendidikan, apalagi yang
berbentuk yayasan pribadi.
Contoh program perencanaan kegiatan mengerjakan PR (Arcaro, 2007:168) :






Dalam pengorganisasian kadang membuat ruang gerak individualis antar
personal, di mana seorang yang kaku dalam melakukan tugasnya sendiri, tanpa mau
tahu dengan kondisi tugas teman lainnya yang belum selesai, antara membantu
teman dengan kepentingan rasa tanggungjawab teman kadang menjadikan diri tega
untuk membiarkannya bekerja semaksimal mungkin. Bayangkan kasus tentang terlambatnya
personal lembaga pendidikan jika diperbandingkan dengan perusahaan dalam waktu
dan pembiayaan, telat 15 menit dari setiap 20 guru atau murid misalnya, maka
akan membuang waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk produktivitas mereka.
Dalam berkomunikasi : memahami orang lain, mendengarkan, menjelaskan,
komunikasi tertulis, menggugah sesama untuk berbicara, bersikap toleran
terhadap kekeliruan, berterima kasih dan memberikan dorongan, memanfaatkan
teknologi informasi (Siahaan, 2006:110). Sehebat-hebatnya manusia berteori dan
implementasi manusia dalam fungsi-fungsi manajeman, faktor ilahiah juga menjadi
pertimbangan. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam surat al-Anfal ayat 63:
y#©9r&ur ú÷üt/ öNÍkÍ5qè=è% 4
öqs9 |Mø)xÿRr& $tB Îû ÇÚöF{$# $YèÏHsd !$¨B |Møÿ©9r& ú÷üt/
óOÎgÎ/qè=è% £`Å6»s9ur ©!$# y#©9r& öNæhuZ÷t/ 4
¼çm¯RÎ) îÍtã ÒOÅ3ym .
Dan yang mempersatukan hati mereka
(orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan)
yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan
tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi
Maha Bijaksana.
[622] penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus
dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan
mereka masuk islam, permusuhan itu hilang.
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa secara teologis-manajemen ketergantungan
kepada Allah swt sangat penting pada situasi dan kondisi sesuai kadar tertentu.
Hal ini untuk menghindari arogansi dalam berorganisasi. Apapun usaha maksimal
yang telah dikerahkan, baik fisik, non-fisik, tenaga, biaya, pikiran demi
kesuksesan organisasi lembaga sekolah dalam mencapai tujuannya, tetap faktor di
luar rasio manusia, kehendak Tuhan tidak bisa diabaikan. Namun demikian,
manusia harus tetap optimis bahwa lembaga
pendidikan yang memiliki sumber daya manusianya lemah, meskipun memiliki modal
dan fsilitas yang memadai, tidak akan bisa meraih keberhasilan, begitu pula
sebaliknya.
III.
Penutup
Lembaga pendidikan yang terdiri atas berbagai komponen dan personalia yang
saling memiliki keterkaitan secara struktural maupun fungsional. Pelaksanaan
fungsi manajemen dalam lembaga pendidikan harus diawali, dikendalikan, dibina,
diarahkan, dan dikelola dengan sebaik-baiknya, agar pelaksanaan lembaga
pendidikan dengan seluruh proses manajerialnya seirama dengan tujuan yang
hendak dicapai. Jika proses fungsi manajemen berjalan dengan baik maka,
performa organisasi juga akan meningkat
sebagai organisasi yang baik, menghasilkan out put sesuai harapan.
Kendala yang muncul di masing-masing fungsi manajemen terus ditelaah seperti
ada kasus di sekolah dasar kepala sekolah tidak ada bedanya dengan guru,
mempunyai jam mengajar yang sama dengan guru lainnya. Urgensi posisi kepala
sekolah sangat dipertimbangkan dari berbagai segi pelaksanaan fungsi manajemen.
Jika tidak, maka hal ini menjadikan sistem manajemen tidak berjalan. Dengan
demikian persepsi masyarakat terhadap sekolah merupakan tantangan bagi sekolah
agar secara konsekuen menerapkan hal-hal yang dapat mendukung efektivitas
pencapaian tujuannya.
Daftar Pustaka
Akdon, 2009, Strategic Management for
Educational Management (Manajemen Strategik untuk Manajemen Pendidikan), Bandung:
Alfabeta, Cet.,III.
Arcaro, Jerome S, Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip
Perumusan dan Tata Langkah Penerapan, Yosal Iriantara penj., Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, Cet., IV.
Arikunto, Suharsimi dan Lia Yuliana, 2008, Manajemen
Pendidikan, Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan FIP UNY, Cet.,IV.
Burhanuddin, Yusak, 2004, Administrasi
Pendidikan,Bandung: Pustaka Setia.
Dede Rosyada, 2007, Paradigma Pendidikan
Demokratis; Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan,
Jakarta: Kencana
Fattah, Nanang, 2004, Landasan Manajemen
Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet.,VII.
Hikmat, 2009, Manajemen Pendidikan, Bandung,
CV. Pustaka Setia
Imai, Masaaki, 1996, KAIZEN(ky’zen) Kunci
Sukses Jepang dalam Persaingan, Mariam Gandamihardja penj., Jakarta: CV.
Teruna Grafica, Cet.,IV.
Jawwad, M. Ahmad Abdul, 2006, Manajemen
Team Work, N.Burhanudin penj., Bandung: PT Syaamil Cipta Media
Komariah, Aan, 2005, Visionary Leadership
Menuju Sekolah Efektif, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Prabowo, Sugeng Listyo, 2008, Manajemen
Pengembangan Mutu Sekolah/Madrasah, Malang: UIN-Malang
Siahaan, Amiruddin , dkk, 2006, Manajemen
Pendidikan Berbasis Sekolah, Jakarta: Quantum Teaching, Cet.,I.
Syukur, Fatah, 2011, Manajemen Pendidikan
Berbasis pada Madrasah, Semarang: PT Pustaka Rizqi Putra, Cet.,I.
Usman, Husaini, 2006, Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, Jakarta:
PT Bumi Aksara, Cet.,I.
Hal ini dapat digambarkan :
Pengumpul informasi
Pemberi informasi
Pencari pendapat
Pengolah informasi
Penyimpul
Pendorong
pembinaan kelompok Pembuat norma
Perilaku individu
dalam kelompok
Penentang
Penghalang
Pendominasi
Penyaing
Berorientasi diri Penyokong tertentu
Penyangga
Pencari nama
Acuh tak acuh
[1] Kasus-kasus ini dapat dilihat dari
dewan pendidikan atau komite sekolah,
yang dalam manajemen sekolahnya memihak pada pelaksanaan sekolah saja, tanpa
ada kontrol evaluasi yang memadai terhadap persoalan sekolah., apalagi dengan
anggaran pembiayaan sekolah seperti BOS, beasiswa misalnya sangat rentan sekali
dengan manipulasi data, begitu pula UN. Bisa juga masalah ini ditinjau dari MBS
(Manajemen Berbasis Sekolah), yakni kurangnya perhatian masyarakat terhadapa
sekolah, karena sekolah tidak lagi berpihak pada masyarakat, misalnya
membengkaknya biaya operasional sekolah dan lainnya (Syukur, 2011:84-85)
[2] Di antara tokohnya Frederik W. Taylor (1856-1915), Gibreth (1911)
menyatakan semua usaha yang diproduksi harus diukur dengan studi waktu secara
teliti, Henry Fayol (1916) menjelaskan dengan lima pedoman manajemen
sebagaimana gambar 1 pada bagan, Gulick dan Urwick (1930) terkenal dengan
akronim POSDCORB (planning, organizing, staffing, directing, coordinating,
reporting, and budgetting) sebagai kegiatan manajerial dalam proses
manajemen, Max Weber (1947) idenya tentang birokasi sebagai ciri dan pola
organisasi yang strukturnya dibuat sedemikian rupa sehingga secara maksimal
dapat menggunakan ahli (Fattah, 2004: 22- 24).
[3] Pelopornya seperti Elton Mayo dikenal dengan studi
Hawthorne, yaitu hubungan antar manusia, atau tingkah laku manusia dalam
situasi kerja, Chester L Barnard (1976) menjelaskan hakikat organisasi adalah
kerjasama, yaitu kesediaan orang saling berkomunikasi dan berinteraksi untuk
mencapai tujuan besama, Victor Vromm (1976) dengan teori harapan (ekspektasi)
mengajukan teori motivasi yang akan mempengaruhi prestasi (Fattah, 2004: 25-
26).
[4] Tokohnya Murdick dan Ross berpendapat organisasi terdiri dari individu,
organisasi formal, organmisasi informal, gaya kepemimpinan, dan perangkat fisik
yabg satu dengan lainnya berhubuingan, lalu William A. Shrode dan D. Voich,
Fitz Gerald dan Stalling, semuanya menyatakan bahwa suatu sistem lebih
cenderung bersifat terbuka (Fattah, 2004: 28-29).
[5] Sumber tambahan artinya fasilitas kepada individu atau unit
dalam memenuhi kebutuhannya. Misalnya kepala sekolah berkoordinasi dalam
penggunaan LCD yang terbatas bagi sejumlah guru. Dengan menambah LCD sesuai
kebutuhan, maka mengurangi koordinasi.
[6]
Unit bebas ini memberikan kebebasan individu atau unit
berkreasi sehingga tidak perlu lagi berkoordinasi. Contoh kepala sekolah
dibebaskan dalam mengajukan proposal sekolah sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan sekolahnya masing-masing sehingga tidak perlu lagi berkoordinasi
dengan stakeholdernya.
[7] Sebagaimana pendapat Robbin yang dikutip oleh Akdon (2009:57-60) dengan
karakteristiknya yaitu: (1) kepekaan terhadap lingkungan (2) umpan balik (3) cyclical
character (4) Negtive entropy (5) Steady state (6) Gerakan ke
arah pertumbuhan dan ekspansi (7) keseimbangan antara mempertahankan dan
menyesuaikan (8) Equifinality.


Komentar
Posting Komentar