METODE PENDIDIKAN
MENURUT PETUNJUK AL-SUNNAH
Oleh :
Abstraksi
Pendidikan
tidak bisa dilepaskan peranannya dalam kehidupan manusia. Ia suatu hal yang
vital. Sehingga sistem pendidikan yang di dalamnya metode pendidikan selalu
dikaji terus menerus “immortal conversation”, terutama dalam metode
pendidikan Islam, yang epistemologinya al-Qur’an dan al-Sunnah. Ilmu selalu
terus berkembang, begitu pula metode pendidikan dalam tafsiran al-Qur’an maupun
al-Sunnah. Sebagai dasar pokok kedua al-Sunnah sangatlah memberi terjemahan
artikulasi yang penting dan lebih praktis metodis dalam praktek nabi keseharian
dengan para sahabat dalam pendidikannya. Namun demikian, perihal umat Islam
ini, terjadi suatu problem pengulangan metode pendidikan yang notabene-nya
tawadlu’ antara hubungan pendidik
dengan anak didik. Sehingga jarang ditemui pendidikan yang bersubyek dan
berobyek pada anak didik.
Hal
demikianlah, yang merunut para pakar tokoh Islam, mengungkapkan beberapa metode
pendidikan Islam yang bernuansa pada sumber epistemologi utamanya. Seperti Abu
Ali Husain ibn Abdillah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina (980-1037 M) metode reward
and punishment, Abu Muhammad al-Ghazali (1058-1111 M) metode pembiasaan
secara bertahap, Abdurrahman Abu Zaid ibn Khaldun (1322-1406 M) metode
pentahapan pengulangan (tadarruj wa al-tikrar), ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah
(2009) berjudul 40 Metode Pendidikan
& Penagajaran Rasulullah SAW, lalu Abdurrahman an-Nahlawi (1995), Pendidikan
Islam: di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, dengan membagi 7 metode
pendidikannya, M.Thalib (1996), Pendidikan Islami Metode 30T, ia membagi
menjadi 30 metode pendidikan yang penyebutannya diawali huruf T dan masih
banyak alternatif metode lainnya.
Dalam kajian
analisa penulis mengkritisi pendidikan yang sudah ada dengan memberi metode
deduktif- induktif, menjadikan suatu metode pendidikan yang aktif, kreatif, bagaimana
menjadikan anak didik sebagai aktor pendidikan. Pendidik di sini dalam posisi
orang dewasa
yang membantu perkembangan anak dalam mengantarkan tercapainya tujuan pendidikan yang mampu menjawab tantangan kehidupan anak didik di masa depannya.
yang membantu perkembangan anak dalam mengantarkan tercapainya tujuan pendidikan yang mampu menjawab tantangan kehidupan anak didik di masa depannya.
Kata kunci: metode pendidikan, al-Sunnah
I. Latar Belakang Masalah
Faktor pendidikan yang terdiri dari lima
bagian pendidik, anak didik, metode pendidikan, materi pendidikan, dan
lingkungan merupakan suatu hal yang saling berkaitan, tidak bisa terpisahkan.
Jika bicara salah satu di antara mereka, maka implikasi satu yang lain akan
ikut menjadi faktor pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang akan
diaplikasikan. Dari faktor metode pendidikan misalnya, seorang pendidik harus
memahami bagaimana materi yang akan disampaikan, bagaimana lingkungannya. Hal
ini tidak bisa pendidik berangkat dari ruang kosong dengan tiba-tiba langsung
memberi materi pendidikan kepada anak didiknya, tanpa melihat materi.
Permasalahan berlanjut, ketika pendidik
menyampaikan materi pendidikan yang memuat pembentukan kepribadian dan
penanaman nilai serta transfer of knowledge melalui metode pendidikan
sebagaimana pendidik dahulu dididik oleh pendidiknya.[1] Ironis jika demikian keadaannya, metode
pendidikan seakan-akan tidak tersentuh oleh nuansa inovasi metode pendidikan
yang dapat mengantarkan anak didik menghadapi persoalan hidup yang lebih
komplek daripada pendidiknya. Metode pendidikan yang pendidik terapkan telah
menghilangkan kreatifitas kemanusiaan, penindasan, ketidakadilan, dominasi dan
kolonisasi terhadap anak didik.[2] Kebebasan dan hak mengemukakan suatu pendapat
atau pemikiran di-cut sedemikian rupa. Anak didik diarahkan dan
dibimbing, tanpa terlebih dahulu berangkat dari mengeluarkan isi dalam pikiran
anak didik sendiri. Dengan kata lain, hal ini sesungguhnya yang dinamakan
penipuan pendidikan.
Pendidik semestinya memahami anak didik
sebagai manusia berpotensi, mempunyai dunianya sendiri, memperlakukan sebagai
individu yang unik, terjalin hubungan kekerabatan antara pendidik dengan anak
didik tanpa jarak menegangkan, memanfaatkan langsung pengalaman anak serta
terus menggali, mengembangkan dan menghargai pendapat anak. Intinya pendidik
mengajak untuk aktif dan belajar dalam suasana yang menyenangkan.[3] Maka pandangan pendidikan demikianlah yang
tidak menghambat perkembangan anak didik sebagai subyek-aktor pendidikan.[4]
Sebuah adagium mengatakan “al-thariqat
ahamm min al-maddah” (metode jauh lebih penting daripada materi),[5] dan kaidah ushul fiqh menyatakan “al amru
bi sya’i amru biwasailihi, walil wasaili hukmul maqashidi” (perintah pada
sesuatu {termasuk di dalamnya pendidikan}, maka perintah pula mencari mediumnya
{metode}).[6] Inilah tuntutan analisis spirit metode
pendidikan yang cukup rumit, jika dicari relevansi dengan perbandingan dari
turunan atau transfer ide realita pendidikan. Apalagi dalam perspektif Islam
yang syarat dengan al-Qur’an dan al-Sunnah yang penuh multitafsir. Hal
ini sebagaimana yang telah dilakukan Fazlur Rahman, yakni menganalisa problematika
pendidikan Islam di Pakistan, dengan menggunakan metode gerakan ganda dengan
empat langkah, di mana salah satu langkah mencari rujukan pada al-Qur’an dan
al-Sunnah.[7] Dengan bermaksud meminjam dari teori Fazlur
Rahman tersebut, penulis hendak mengkaji secara spesifik bagaimana tentang
metode pendidikan dengan mencari rujukan al-Sunnah.
II. Pembahasan
A. Pengertian Metode Pendidikan
Metode berasal dari bahasa Greek yang
terdiri dari dua kata, yaitu meta yang berarti melalui, dan hodos
yang berarti jalan. Jadi metode adalah jalan yang dilalui untuk memcapai tujuan.[8] Sedangkan dalam bahasa Indonesia metode
adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud.[9]
Metode
diartikan sebagai “cara” bukan “langkah” atau “prosedur”. Metode yang diartikan
cara mengandung pengertian fleksibel sesuai kondisi dan situasi serta
mengandung implikasi “mempengaruhi” saling ketergantungan antara pendidik
dengan anak didik. Sedangkan metode dalam arti “langkah” atau “prosedur” lebih
bersifat teknis administratif atau taksonomis seolah-olah mendidik atau
mengajar hanya diartikan sebagai langkah aksiomatis, kaku, dan tematis. Dalam
pengertian “cara” ini, antara pendidik dan anak didik berada dalam proses
kebersamaan menuju ke arah tujuan tertentu.[10]
Seringkali kata pendidikan digantikan dengan
kata pengajaran. Menurut Sikun Pribadi guru besar IKIP Bandung antara
pengajaran dan pendidikan merupakan dua istilah yang terdapat persamaan dan
perbedaan. Pengajaran adalah suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan anak
mengenai segi kognitif dan psikomotorik semata. Sedangkan pendidikan mencakup segi
kognitif, psikomotorik, dan afektif. Kemudian, tujuan pengajaran lebih mudah
ditentukan daripada pendidikan. Tujuan pendidikan menyangkut seluruh
kepribadian manusia yang sulit ditentukan. Sebenarnya tujuan pengajaran juga
menyangkut kepribadian manusia, namun pengajaran hanyalah sebagian dari
kepribadian manusia. Dengan demikian, pengajaran merupakan bagian dari
pendidikan.[11]
Selanjutnya metode pendidikan adalah cara yang
tepat guna untuk menjelaskan materi pendidikan kepada anak didik dalam situasi
dan kondisi tertentu. Materi pendidikan tersebut diharapkan memberi kesan yang
mendalam pada diri anak didik (Jalaluddin, 1996: 53).[12] Pengertian ini mengarah pada model pendidikan
paedagogik, yakni mendidik anak. Dalam istilah tertentu metode pendidikan ini
dapat disejajarkan[13]
dengan strategi belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Karena mengingat proses pendidikan atau belajar ini terjadi antara pendidik
sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab menjelaskan materi pendidikan kepada
anak didiknya dan anak didik sendiri sebagai subyek maupun obyek pendidikan.
Konsepsi metode pendidikan tersebut, yang dimaksud penulis untuk mengkaji
bagaimana metode pendidikan menurut petunjuk al-Sunnah.
B. Metode Pendidikan dalam al-Sunnah
Metode
pendidikan sebagai bagian yang urgen dalam sistem pendidikan, tidak kering
untuk dikaji, selalu ada tema dan penamaan metode pendidikan baru (new
released), meski sudah banyak tokoh pemikir yang menemukan metode
pendidikan, di Barat seperti Johann Friedrich Herbart (1776-1841 M) asal Jerman
terkenal dengan metode berpikir induktif dalam proses belajar mengajar, Johann
Heinrich Pestalozzi (1746-1827 M) teori pendidikan yang didasarkan atas paham
naturalisme, John Dewey (1859-1952 M) terkenal dengan metode learning by
doing. Sedangkan dalam dunia muslim Abu Ali Husain ibn Abdillah ibn Hasan
ibn Ali ibn Sina (980-1037 M) metode reward and punishment, Abu Muhammad
al-Ghazali (1058-1111 M) metode pembiasaan secara bertahap, Abdurrahman Abu
Zaid ibn Khaldun (1322-1406 M) metode pentahapan pengulangan (tadarruj wa
al-tikrar).[14]
Wacana
sekarang, beredar buku-buku terbitan dari penerbit dalam maupun luar negeri
yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dengan mengklasifikasikan
macam-macam metode pendidikan dalam mengatasi problematika pendidikan dalam
mencapai tujuannya. Seperti bukunya ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah (2009) berjudul 40 Metode Pendidikan & Penagajaran
Rasulullah SAW,[15] lalu Abdurrahman an-Nahlawi (1995), Pendidikan Islam:
di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, dengan membagi 7 metode pendidikannya,[16] M.Thalib (1996), Pendidikan Islami Metode
30 T, ia membagi menjadi 30 metode pendidikan yang penyebutannya diawali
huruf T,[17] dan buku lainnya yang membahas alternatif
metode pendidikannya. Namun demikian, penulis tidak berpretensi mengulas semua,
atau sebagian metode yang di singgung di atas, hanya menyebutkan empat metode
pendidikan kajian menurut petunjuk al-Sunnah, yaitu sebagai berikut:
1.
Metode graduasi
a) Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwasannya ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’adz
ke Yaman.
عن ابن عباس عن معاذ بن جبل - قال أبو بكر ربما قال
وكيع عن ابن عباس أن معاذا - قال بعثنى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال : “إنك تأتى قوما من أهل الكتاب. فادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأنى رسول الله فإن هم
أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات فى كل يوم
وليلة فإنهم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد فى فقرائهم فإن هم أطاعوا لذلك فإياك وكرائم أموالهم واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب.” (رواه
مسلم)
Artinya: “Sesungguhnya kamu akan mendatangi
para ahli kitab, maka ajaklah mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain
Allah dan aku (Muhammad) adalah utusan-Nya. Jika mereka mentaati ajakan itu,
maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan shalat lima kali
dalam sehari semalam. Jika mereka menerima ajakan tersebut, maka beritahukan
kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan zakat atas mereka yang dipungut dari orang-orang
kaya di antara mereka, lalu diberikan kepada orang-orang fakir di anatara
mereka. Jika mereka mentatai kewajiban itu, maka hormatilah harta mereka serta
takutlah terhadap do’a orang-orang yang teraniaya, karena sungguh antara do’a
mereka dan Allah SWT tidak terdapat hijab (penghalang)” (HR Muslim, tt:37
No. Hadits 130 Bab al-Du’a ila syahadataini wa Syara’i, Juz I).
b) Diriwayatkan dari Jundub bin ‘Abdillah r.a, ia berkata:
كنامع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا
الإيمان قبل أن نتعلم
القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنابه إيمانا. (رواه ابن ماجه)
Artinya: “Sewaktu kami masih remaja, kami
pernah (belajar) bersama Rasulullah. Materi yang kami pelajari terlebih dahulu
adalah tentang keimanan, setelah itu barulah kami mempelajari al-Qur’an,
sehingga ketika kami usai mempelajari al-Qur’an, maka keimanan kami semakin
bertambah.” (HR Ibn Majah, :23 No.
61 Bab fi al-Iman, Juz 1).
c) Diriwayatkan dari Muhammad Ibnu Fudhai, dari ‘Atha’ (Ibn as-Sa’ib), dari
Abi Abdurrahman (as-Sulami al-Muqri’).
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ
الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِئُونَ مِنْ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ فَلَا يَأْخُذُونَ فِي
الْعَشْرِ الْأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِي هَذِهِ مِنْ الْعِلْمِ
وَالْعَمَلِ قَالُوا فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَل.(رواه: أحمد(
Artinya: “Salah seorang yang biasa
mengajari kami, yakni dari kalangan shahabat Nabi SAW, bercerita kepada kami
bahwa sesungguhnya mereka (para sahabat) pernah mempelajari 10 ayat (al-Qur’an)
dari Rasulullah SAW. Mereka tidak mempelajari 10 ayat yang lain sebelum mereka
dapat mengetahui setiap ilmu yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut dan
mengamalkannya.” (HR Ahmad, 1999 :466 No. Hadits 23482 Juz 38)
Hadits
yang pertama dan kedua metode graduasi dalam pentahapan keimanan anak didik
aspek afektif, hanya perbedaannya dalam hadits pertama penekanannya pada anak
didik dalam artian masih awam (dalam hadits bagian point a di atas berupa
ajakan orang yang hendak masuk Islam), sementara hadits kedua tahapan anak
didik dalam kondisi sudah mengenal Islam (Hadits pentahapan dalam mempelajari
suatu ilmu). Pendidik mengaplikasikan metode ini dalam kapasitas pengetahuan
anak didiknya. Jadi guru tidak mengajar dengan kadar pengetahuannya dilakukan
secara sekaligus, tetapi melalui tahapan-tahapn waktu dan materi pendidikan dan
pengajarannya.
Sementara hadits ketiga, sahabat mempelajari
al-Qur’an dari Rasulullah SAW. Mereka tidak mempelajari 10 ayat yang lain
sebelum mereka dapat mengetahui setiap ilmu yang terdapat dalam ayat-ayat
tersebut dan mengamalkannya. Pendekatan yang dipakai Sahabat diposisikan
sebagai anak didik dan Rasulullah pendidik, secara tidak langsung aspek
kognitif dalam memahami ayat al-Qur’an dan psikomotorik dalam mengamalkan
al-Qur’an dengan pertanggungjawaban sahabat sendiri, sungguh suatu hal yang
sempurna dan langka untuk batas ukuran anak didik saat ini.
Metode graduasi sistem ketiga ini, pada
dasarnya hampir mirip dengan metode berprograma.[18] Perbandingannya dalam metode graduasi dan
metode berprograma sama-sama dalam scope yang telah ditentukan, anak
didik tidak bisa pindah ke materi yang lain, sebelum selesai atau menuntaskan
tahap bahasan lebih awal yang mendahuluinya. Namun dalam metode berprograma
sebatas menyentuh aspek koginitif peserta didik, lain halnya dengan metode
graduasi yang ditindaklanjuti dengan amalan dari pengetahuan yang diperoleh
(kognitif dan psikomotorik). Sebaliknya juga metode graduasi dalam kognitifnya
tidak serumit apa yang ada dalam metode berprograma, yang lebih rinci membagi
ke beberapa varian kognitif. Sebagai misal, jenis program pola linear dan
program branching (bercabang).[19] Pembicaraan proposisi-proposisi tersebut,
menguatkan bahwa metode ini dapat dimix menjadi lebih berkembang dan
variatif aplikasinya diolah dan oleh pendidik .
2.
Metode isyarat (anggota tubuh)
a) Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari r.a:
حدثنا محمد بن يوسف حدثنا سفيان عن
أبي بردة بريد بن أبي بردة قال أخبرني جدي أبو بردة عن أبيه أبي موسى : عن النبي
صلى الله عليه و سلم قال “:المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه
بعضا . ( ثم شبك بين أصابعه) " (رواه البخاري)
Artinya:“Orang mukmin yang satu bagi mukmin
yang lainnya adalah laksana suatu bangunan yang bagian-bagiannya saling
mengokohkan.” (Beliau menganyam jari-jari kedua tangannya sebagai isyarat atas
penjelasannya) (HR al-Bukhari, 1987 :2242 No.Hadits 5680, Bab Ta’aluq al-Mu’minin
ba’dluhum ba’dla, Juz V)
b) Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d al-Saidi r.a :
حدثنا عمرو بن زرارة أخبرنا عبد العزيز بن أبي حازم عن أبيه عن سهل قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : "أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا. وأشار بالسبابة
والوسطى وفرج بينهما شيئا" (رواه البخاري)
Artinya:“Kelak aku dan pengasuh anak yatim
akan berada di surga laksana dua (jari) ini, seraya beliau berisyarat dengan
kedua jari beliau, jari telunjuk dan jari tengah dengan sedikit direnggangkan.”(HR
al-Bukhari, 1987:2032 No. Hadits 4998, Bab al-la’an, Juz V)
c) Diriwayatkan dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, dia berkata bahwasannya
dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, beritahukan
kepadaku sesuatu yang dapat aku pegang teguh.” Redaksi haditsnya sebagai
berikut:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي
ابْنَ الْمُبَارَكِ قَالَ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ مَاعِزٍ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ: قُلْتُ يَا
رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ: “قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ” قَالَ: “قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيّ”َ قَال:َ “فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا”.(رواه: أحمد)
Artinya:“Katakanlah: “Rabbku adalah Allah,
kemudian beristiqamahlah.” Aku bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apa yang
paling engkau takutkan terhadapku?” Beliau kemudian menunjuk lidah beliau, lalu
berkata: “ini!” (HR Ahmad, 1999:145, No. Hadits 15419, Bab 24, Juz 24)
d) Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a,:
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو عُشَّانَةَ
حَيُّ بْنُ يُؤْمِنَ الْمَعَافِرِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ
يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :تَدْنُو الشَّمْسُ مِنْ الْأَرْضِ فَيَعْرَقُ
النَّاسُ فَمِنْ النَّاسِ مَنْ يَبْلُغُ عَرَقُهُ عَقِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ
يَبْلُغُ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ
وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْعَجُزَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْخَاصِرَةَ
وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ مَنْكِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ عُنُقَهُ
وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ وَسَطَ فِيهِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ فَأَلْجَمَهَا فَاهُ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ هَكَذَا وَمِنْهُمْ
مَنْ يُغَطِّيهِ عَرَقُهُ وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِشَارَةً”.(رواه: أحمد)
Artinya:“(Pada hari kiamat nanti) matahari
akan mendekati bumi, sehingga semua manusia akan mencucurkan keringat. Di
antara mereka ada yang keringatnya (menggenang) sampai batas kedua mata kaki
mereka;di antara mereka yang lain ada yang keringatnya (menggenang) hingga
batas kedua lutut mereka; di antara mereka yang lain ada yang keringatnya
(menggenang) sampai batas paha mereka; di antara mereka yang lain lagi ada yang
keringatnya (menggenang) sampai pada batas pinggang mereka; di antara mereka
ada yang keringatnya (menggenang) hingga masuk ke dalam mulut mereka;”(‘Uqbah
memberi isyarat seraya meletakkkan tangan di mulutnya, lalu berkata:”Aku juga
melihat Rasulullah SAW memberi isyarat demikian”)”dan di antara mereka yang
lain ada yang tenggelam oleh keringat mereka sendiri.”(beliau memberi isyarat
dengan tangannya). (HR Ahmad, 1999:647, No.Hadits 17439, Bab 28, Juz
28).
Ada empat
hadits yang penulis kutip dari al-Bukhari dan Ahmad, masing-masing Rasulullah
SAW menjelaskan pembicaraannya dengan mengisyaratkan pada anggota tubuhnya,
baik dari perrsaudaraan muslim dengan menganyam jari-jari, dekatnya Rasulullah
dan pengasuh anak yatim akan di surga dengan mengisyaratkan dua jari telunjuk
dan tengah, hal yang perlu ditakutkan dengan menunjuk lidahnya Rasul sendiri,
maupun meletakkan tangan di mulut isyarat tanda genangan keringat di kiamat
nanti.
Hal
tersebut secara praktis metodologis bisa diimplementasikan saat belajar bahasa
Arab misalnya, sebagaimana Suja’i menjelaskan belajar bahasa Arab secara
langsung tanpa menggunakan perantara atau terjemah yang kemungkinan tidak tepat
padanannya, metode ini dikenal dengan metode langsung (al-Thariqah
al-Mubasyiroh).[20] Jadi pendidik langsung menunjuk pada objek
tertentu, dan itu dapat dipahami secara langsung oleh anak didik. Hal ini tidak
ubahnya Rasulullah ketika melakukan isyarat-isyaratnya secara jelas, sahabatpun
memahaminya.
3. Metode nasihat dan peringatan
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr
as-Sulamy dan Hujr bin Hujr, keduanya berkata: Kami pernah bertemu dengan
al-Irbadh bin Sariyah. Setelah mengucapkan salam, kemudian kami berkata: “Kami
datang kepadamu untuk berziarah serta sebagai orang yang kembali dan mencari.”
al-‘Irbadh berkata: “ pada suatu hari Rasulullah SAW shalat bersama kami,
kemudian (setelah shalat) beliau mengahdap kami untuk menyampaikan suatu
nasihat penting, sehingga membuat semua pendengarnya menangis dan hatinya
menjadi tergetar (tergugah). Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, adakah
(nasihat) ini merupakan nasihat orang yang berpamitan? Maka apa yang engkau
sampaikan kepada kami?” sebagaimana Hadits berikut:
عَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو السُّلَمِىُّ وَحُجْرُ بْنُ حُجْرٍ قَالاَ أَتَيْنَا
الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ وَهُوَ مِمَّنْ نَزَلَ فِيهِ (وَلاَ عَلَى الَّذِينَ
إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لاَ أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ)
فَسَلَّمْنَا وَقُلْنَا أَتَيْنَاكَ زَائِرِينَ وَعَائِدِينَ وَمُقْتَبِسِينَ.
فَقَالَ الْعِرْبَاضُ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ
يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ
مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ
اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ
« أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا
حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا
كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ
الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ ». (رواه أبوداود )
Artinya:“Aku berpesan pada kalian untuk tetap bertaqwa kepada Allah,
juga mendengar dan taat meskipun yang menjadi pemimpin kalian adalah seorang
budak dari negeri Habsy, karena siapapun dari kalian yang hidup sesudahku, maka
dia akan melihat perselisihan yang amat banyak. Oleh karena itu, wajib bagi kalian
memegang teguh Sunnahku dan Sunnah para Khalifah yang bijak (khulafaur
rasyidin). Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah dengan geraham
kalian, serta jauhkan diri kalian dari mengada-adakan sesuatu yang baru dalam
persoalan agama), karena setiap sesuatu yang diada-adakan adalah bid’ah: dan
setiap bid’ah itu sesat.” (HR Abu Dawud, tt:329 No. Hadits 4609 Bab fi
Luzumi al-Sunnah, Juz IV)
Dalam
metode ini Rasulullah SAW menekankan betapa pentingnya internalisasi dan
transformasi nilai-nilai agama Islam, agar umatnya tidak tersesat jalannya.
Hadits di atas menyirat bahwa perlunya seorang guru mendidik anak didiknya
dengan metode nasihat. Nasihat dapat membukakan mata anak-anak pada hakekat
sesuatu, mendorongnya menuju situasi luhur, menghiasinya dengan ahlaq mulia,
dan membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam (sebagaimana dal al-Qur’an[21] dan Sunah).[22]
Dalam
bukunya Muhtar mengutip Abdullah Nashih Ulwan menjelaskan ada lima metode yang
influentif dalam menanamkan pendidikan akhlak terhadap anak didik, yaitu: (1)
pendidikan dengan keteladanan, (2) pendidikan dengan adat kebiasaan, (3)
pendidikan dengan nasihat, (4) pendidikan dengan memberikan perhatian, dan (5)
pendidikan dengan memberikan hukuman. Ini semua jelas harus dimulai dari sikap
pendidik terlebih dahulu, tanpa itu pendidikan yang diterapkan hanya sebatas
metode saja, tidak akan mendapatkan harapan kesuksesan tujuan menjaga moral
anak didik.[23]
Kelima metode tersebut puncak klimaksnya
bagaimana menguraikannya dalam bentuk nasihat operasional pendidik dengan
cara-cara aplikatif-positif. Berseberangan dengan spirit nasihat kepada anak
dengan aura negatif, mengatakan kepada anak yang berbuat salah atau tidak sopan
dengan kata-kata,”kamu anak durhaka atau kamu anak jorok”, bandingkan dengan
“Sesungguhnya kamu anak yang baik dan pintar, tidak semestinya melakukan itu
atau kamu anak yang pemberani dan berahlak mulia, lakukan yang berguna ya
sayang?”. Stigma kata-kata ini akan
membawa opini anak menggambarkan tentang dirinya dalam koridor seperti itu.
Konsepsi waktu kecil akan menjadi rujukannya di waktu besar kelak. Dengan spirit
positif, akan mendorong sikap pengaruh positif dalam kehidupan anak dan
perilakunya.[24]
Harapan
akhir dengan adanya metode nasihat dan peringatan ini, anak didik dalam
pendidikannya akan mendapatkan kesan [25] bahwa ia telah melakukan perbuatan yang tidak
sesuai dengan norma-norma agama maupun sosial dalam konteks multikultural. Di
sini pendidik harus mampu memberi argumen dasar tentang nasihat dan peringatan
yang diberikan kepada anak didik untuk menyikapi ragam perilaku masyarakat ke
depannya.
4. Metode cerita
a) Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, dengan redaksi
hadits sebagai berikut :
حدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا
مالك عن سمي عن أبي صالح عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه و
سلم قال: "بينا رجل يمشي فاشتد عليه العطش فنزل بئرا فشرب منها ثم خرج فإذا
هو بكلب يلهث يأكل الثرى من العطش فقال لقد بلغ هذا مثل الذي بلغ بي فملأ خفه ثم
أمسكه بفيه ثم رقي فسقى الكلب." فشكر الله له فغفر له. قالوا: "يا رسول
الله وإن لنا في البهائم أجرا ؟ قال في كل
كبد رطبة أجر." (رواه البخاري)
Artinya:“(Suatu ketika) seseorang yang tengah kehausan berjalan di suatu
jalan dan kebetulan ia mendapat suatu sumur, kemudian dia segera turun ke dalam
sumur itu untuk minum, setelah itu dia naik lagi (dari sumur tersebut). Saat
itu tiba-tiba ia mendapati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan terlihat
sedang menjilati tanah karena kehausan. Orang itu lalu bergumam:”sungguh anjing
ini begitu kehausan sebagaimana rasa hausku tadi. Setelqah itu orang tersebut
lalu kembali ke dalam sumur dan mengisi sepatunya dengan air, kemudian
membawanuya naik dengan cara menggigit di mulutnya, lalu memberikannya pada
anjing tersebut. Maka Allah menerima kebaikannya itu dan berkenan mengampuni
dosa-dosanya. Mereka (para sahabat) lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah
kita bisa memperoleh pahala terkait dengan binatang?” Beliau menjawab: “Pada
tiap-tiap hati yang basah (mahluk hidup) pasti ada pahala.” (HR Bukhari,
1987 :833, No,Hadits 2234 Bab Fadlu saqyu al-Ma’, Juz II)
b) Hadits periwayatan dari Abdullah bin ‘Umar
r.a, yaitu:
حدثنا إسماعيل قال حدثني مالك عن نافع عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن
رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: "عذبت امرأة في هرة حبستها حتى ماتت جوعا
فدخلت فيها النار" . قال فقال: "والله
أعلم، لا أنت أطعمتها ولا سقيتها حين حبستها ولا أنت أرسلتها فأكلت من خشاش الأرض."
(رواه البخاري)
“Seorang perempuan disiksa di neraka karena seekor kucing yang diikatnya,
hingga kucing itu mati, lantaran perempuan itu tidak memberinya makan dan tidak
pula minum. Dia terus mengurung kucing itu hingga kucing tersebut tidak dapat
mencari makannya sendiri dari serangga-serangga yang ada di muka bumi.” (HR al-Bukhari, 1987:834 No. Hadits 2236, Bab
fadlu saqyi al-Ma’, Juz II)
Dari dua kisah dalam hadits di atas tentang
dua orang yang bertolak belakang. Seorang yang menyayangi dan berbuat baik
kepada binatang, sehingga mendapatkan ampunan Allah, sedangkan lainnya membenci
dan berbuat buruk terhadap binatang, maka mendapatkan siksa. Metode cerita ini
dapat dikembangkan menjadi dua sisi hubungan “guru yang murid”, “murid yang
guru”, maksudnya selain yang bercerita guru, sebenarnya muridpun berhak
mengemukakan cerita sebagaimana gurunya.[26]
Abdurrahman Mas’ud menjelaskan teorinya
tentang metode humanisme religius, bagaimana guru memahami, mendekati, dan
mengembangkan siswa sebagai individu yang memiliki potensi kekhalifahan dan
potensi unik sebgai mahluk Allah SWT. Sebagai tindakan teknisnya guru bertindak
sebagai fasilitator, memperlakukan siswa sebagai subyek dan mitra belajar dan
sebagainya. Sehingga hal ini, menjadikan anak didik berproses dengan
kepercayaan dirinya menjadi pribadi yang matang.[27]
Pemilihan metode dalam pendidikan, hampir
tidak dapat diabaikan beberapa faktor yang menjadi rambu-rambu penting dalam
memilih metode. Dengan demikian metode yang dipilihnya dapat bekerja secara
efektif dam efisien serta maksimal guna tercapainya tujuan pendidikan. Pertama,
kondisi anak didik, apakah mereka memiliki tingkat kemampuan dalam memberikan
respon terhadap metode yang diberlakukan kepada mereka, misalnya penggunaan
metode graduasi ini. Kedua, materi pelajaran yang menghendaki beraneka
ragam metode yang berbeda. Ketiga, kapabilitas guru dalam
menggunakan metodemerupakan faktor efektifitas pemakaian metode yang dipilih,
misalnya guru yang tidak fasih bicara. Sebaiknya tidak menggunakn metode
ceramah. Keempat, tujuan metode apapun yang dipilih harus disesuaikan
dengan tujuan yang dikehendaki, bukan sebaliknya tujuan yang menyesuaikan
metode.[28]
III. Penutup
Metode Pendidikan sebagai suatu konsep perlu
dipahami essensinya, agar tidak terjadi kerutinan, kebekuan, tanpa
memperhatikan perkembangan, maupun perubahan yang cepat. Di sinilah perlu
analisa yang mendalam, sehingga mampu memberikan, menyajikan suatu anak didik,
atau sumber daya manusia yang membangun di masa kini maupun yang akan datang.
Tuntutan mendesak bagi pendidik dalam proses pendidikan harus menguasai dan
menggunkan beberapa metode, tidak akan mungkin menggunakan satu metode, dengan
memperhatikan beberapa faktor terkait, baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam melangkah menggapai tujuan operasional aplikatif maupun
idealitanya.
Di antara empat metode yang penulis kaji,
metode graduasi, metode isyarat, metode nasihat, dan metode cerita, hanyalah
sedikit dari banyaknya metode pendidikan yang belum dibahas dalam merujuk
pendekatan al-Sunnah. Bagaikan cermin antik, al-Sunnah akan memberi warna dan
rasa aroma yang berbeda, meski dalam satu matannya. Dengan kata lain, satu
matan dengan pendekatan yang berbeda akan menemukan berbagai metode pendidikan
yang berlainan. Kemudian, sebagai faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan oleh pendidik dalam menentuka metodenya, sebagaimana tersebut
di atas adalah: (1) kondisi anak didik, (2) materi pelajaran yang menghendaki
beraneka ragam metode yang berbeda, (3) kapabilitas guru dalam menggunakan
metode, dan (4) tujuan metode.
Ini semua bermuara pada tema sentral pada arah
tujuan pendidikan. Keberhasilan dari upaya tujuan ini, tidaklah semata-mata
ditentukan dengan teori tersebut di atas, tetapi ditentukan oleh keterlibatan
generasi-gemerasi berikutnya dalam melanjutkan upaya-upaya yang telah dilakukan
teori tersebut. Perkembangan metode pendidikan al-Sunnah masih terbuka lebar
untuk bahan kajian epistemologi pendidikan Islam sebagai nafas untuk kehidupan
di masa depan.
Daftar Pustaka
al-Bukhari, Imam Abi Abdillah Muhammad ibn
Ismail, 1987, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, al-Yamamah Beirut: Dar
ibn Katsir, Cet., III.
al-Qazwini, Muhammad ibn Yazid Abu Abdullah,
tt, Sunan Ibn Majah, Beirut: Dar al-Fikr
an-Nahlawi, Abdurrahman, 1995, Pendidikan
Islam: di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press,
Cet.,I.
Arief, Armai, 2002, Pengantar Ilmu dan
Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, Cet.,I.
Arifin, M, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:
Bumi Aksara, Cet.,V.
Arifin, 1994, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta:
Bumi Aksara, Cet.,IV.
Arifi, Ahmad, 2001, “Menilik Pendidikan
Pembebasan dalam Perspektif Pendidikan Islam”, dalam jurnal Pendidikan
Conceptor, BEMJ KI Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga.
Chan, Stevan M, 2002, Pendidikan
Liberal Berbasis Sekolah, Abdul Munir Mulkhan dan Umi Yawisah penyadur,
Yogyakarta: LPKM
Depdikbud,
1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Cet.,
IV.
Dimas, Muhammad Rasyid, 2005, 20 Kesalahan
dalam Mendidik Anak, Abdurrahman Kasdi penj., Jakarta: Pustaka al-Kautsar,
Cet.,I.
Ghuddah,
‘Abdul Fattah Abu, 2009, 40
Metode Pendidikan & Pengajaran Rasulullah SAW, Bandung: Irsyad
Baitus Salam, Cet.,I.
Hanbal, Ahmad ibn, 1999, Musnad
al-Imam Ahmad ibn Hanbal, t.k: Muassasah al-Risalah, Cet.,II
Idrus, Muhammad, 1997, Karakteristrik dan
Dimensi Moral Anak Didik dalam Pendidikan dalam buku Pendidikan Islam
dalam Peradaban Industria, Yogyakarta: Fak. Tarbiyah UII.
Kuroyanagi,
Tetsuko, 2003, Totto-Chan Si Gadis Kecil di Tepi Jendela, Widya
Kirana penj., Jakarta: PT Gramedia, Cet.,I.
Mas’ud, Abdurrahman, 2002, Menggagas Format
Pendidikan Nondikotomik, Yogyakarta: Gama Media.
Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993, Pemikiran
Pendidikan Islam:Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung:
Trigenda Karya, Cet.,I.
Muhtar, 2003, Desain Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam, Jakarta: CV Misaka Galiza.
Muslim, Abi al-Husaini, tt, al-Jami’
al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, Beirut: Dar al-Jail dan Dar al-Afaq
al-Jadidah, Juz I.
Nizar, Samsul, 2002, Filsafat Pendidikan
Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Press,
Cet.,I.
Purwanto, Ngalim, 2002, Ilmu Pendidikan
Teoritis dan Praktis, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet.,XIV.
Ramayulis, 2005, Metodologi Pendidikan
Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, Cet.,IV.
Rosyadi, Khoiron, 2004, Pendidikan
Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet,.I.
Shaleh, Abdul Rahman , 2000, Pendidikan
Agama dan Keagamaan:Visi, Misi, dan Aksi, Jakarta: PT Gemawindu Panca
Perkasa, Cet.,I.
Sulaiman, Abu
Dawud, tt, Sunan Abu Dawud, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, Juz IV.
Sutrisno, 2005, Fazlur Rahman: Kajian
Terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, Cet.,I.
Suja’i, 2008, Inovasi Pembelajaran Bahasa
Arab: Strategi dan Metode Pengembangan Kompetensi, Semarang: Walisongo
Press., Cet.,I.
Tafsir, Ahmad, 1994, Ilmu Pendidikan dalam
Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, Cet.,II.
Thalib, M, 1996, Pendidikan Islam Metode
30T, Bandung: Irsyad Baitus Salam, Cet.,XI.
Taruna, J.C Tukiman, 2002, “Pedas dan
Pakem:Komitmen dan Revolusi Pembelajaran”, dalam BASIS, No. 07-08, Tahun ke-51,
Juli-Agustus.
Ulwan, Abdullah Nashih, tt, Pedoman
Pendidikan Anak dalam Islam, Saifullah Kamalie dan Hery Noer Ali penj.,
Semarang:asy-Syifa’, Juz II
Untung, Moh. Slamet, 2009, Menelusuri
Metode Pendidikan ala Rasulullah, Semarang: Pustaka Rizki Putra.
[1] Permasalahan tersebut penulis ungkap sebagaimana Munir
Mulkhan memberi kata pengantar dalam buku Pendidikan Liberal menjelaskan bahwa
penguasaan guru terhadap materi terbatasa pada apa yang mereka peroleh selama
masa pendidiknya dahulu dengan pola dan model yang sama, lihat Stevan M, 2002, Pendidikan Liberal Berbasis
Sekolah, Abdul Munir Mulkhan dan Umi Yawisah penyadur, Yogyakarta: LPKM,
hlm. xxiv. Metode pendidikan seperti ini biasanya
masih diterapkan dalam sistem pendidikan pesantren, materi-materi yang pendidik
ajarkan syarat dengan nilai kepribadian, akan tetapi dominasi pesantren
terhadap santri sangat kental. Metode sorogan dan metode wetonan atau
bandongan. Metode ini santri sebagai anak didik kurang aktif (Qomar, 2007:142-143)
[2] Ahmad Arifi, 2001, “Menilik Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif
Pendidikan Islam”, dalam jurnal Pendidikan Conceptor, BEMJ KI Fakultas Tarbiyah
IAIN Sunan Kalijaga. Hlm. 44-45.
[3]
Taruna, J.C Tukiman, 2002, “Pedas dan Pakem:Komitmen dan
Revolusi Pembelajaran”, dalam BASIS, No. 07-08, Tahun ke-51, Juli-Agustus. Hlm.
70.
[4] Muhammad Idrus, 1997, Karakteristrik dan
Dimensi Moral Anak Didik dalam Pendidikan dalam buku Pendidikan Islam
dalam Peradaban Industria, Yogyakarta: Fak. Tarbiyah UII. Hlm. 45.
[5]Armai Arief, 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,
Jakarta: Ciputat Pers, Cet., I. Hlm. 39.
[6] Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993, Pemikiran
Pendidikan Islam:Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung:
Trigenda Karya, Cet., I. Hlm. 229.
[7] Empat langkah
tersebut, yaitu: (1) identifikasi terhadap pendidikan umat Islam ketika itu,
(2) menemukan problem pendidikan di Pakistan, (3) mencari rujukan pada
al-Qur’an dan al-Sunnah, dan terakhir (4) berusaha memberikan alternatif solusi
atas problem tersebut berdasar rujukan al-Qur’an dan al-Sunnah, Sutrisno, 2005,
Fazlur Rahman: Kajian Terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet., I. Hlm. 151. Teori tersebut lebih dikenal
dengan nama Double Movement.
[8] Samsul Nizar, 2002, Filsafat Pendidikan
Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Press,
Cet., I. Hlm. 65 dan lihat juga M. Arifin, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:
Bumi Aksara, Cet., V. Hlm. 61.
[9] Depdikbud, 1995, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Cet., IV. Hlm. 652
[10] Arifin, 1994, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,
Cet.,IV. Hlm. 100-101.
[11] Ahmad Tafsir, 1994, Ilmu Pendidikan dalam
Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, Cet.,II. Hlm. 27. Menurut penulis, sebenarnya bukan merupakan
suatu yang prinsip memperbincangkan perbedaan dan persamaan antara pendidikan
dan pengajaran, yang penting setiap orang yang berusaha “mendidik” anak
dilakukan dengan “mengajar”-kan suatu perbuatan, ketrampilan, dan pengetahuan
kepada anak didiknya. Di samping itu, memahami tidak semua perbuatan “mengajar”
adalah “mendidik” lihat Ngalim Purwanto,
2002, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, Cet.,XIV. Hlm. 150-151.
[13] Disejajarkan dalam bahasa penulis mengikuti pada pengertian
antara pendidikan dengan pengajaran sebagaimana di atas, yakni persamaan dan
perbedaannya.
[14] Moh. Slamet Untung, 2009, Menelusuri Metode
Pendidikan ala Rasulullah, Semarang: Pustaka Rizki Putra. Hlm. 189
[15] 40 metodenya ini menjadi kajian rujukan penulis, untuk
mengungkap lebih jauh bagaimana dianalisa dalam pandangan perbandingan dengan
metode pendidikan di luar buku tersebut, di samping itu, ia belum sepenuhnya
lengkap mengkaji analisa mendalam untuk menjelaskan dalam rangka cara
praktis-metodisnya, hanya lebih berkisar dalam wacana tekstualis hadits sebagai
tumpuan berpikirnya(deduktif analitis). Di antara metode pendidikannya: metode
graduasi, metode ceita, metode nasehat dan peringatan, metode tanya jawab dan
sebagainya.
[16] 7 Metode pendidikan menurutnya; metode dialog
qur’ani dan nabawi, kisah-kisah qur’ani dan nabawi , perumpamaan qur’ani dan
nabawi, aplikasi dan pengalaman, ibarah dan nasihat,serta targhib wa tarhib,
lihat an-Nahlawi, Abdurrahman, 1995, Pendidikan Islam: di Rumah, Sekolah,
dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, Cet., I. Hlm. 204.
[17] Seperti metode ta’liim, tabyiin, tafshiil, tafhiim, dan sebagainya. M
Thalib, 1996, Pendidikan Islam Metode 30T, Bandung: Irsyad Baitus Salam,
Cet., XI. Hlm. 9-10.
[18] Metode ini dikenalkan oleh Sidney L.Pressy, seorang psikolog dari Ohio
State University di Amerika Serikat 1926. Ia bereksperiment dengan menggunakan
mesin yang disebut “teching machine”(mesin mengajar). Dalam mesin tersebut berupa
pertanyaan-pertanyaan yang harus ditapaki siswa. Jika jawabannya benar, maka ia
berlanjut ke hal berikutnya yang lebih rumit, namun bila tidak bisa menjawab,
maka tetap saja pada pertanyaan yang pertama. Ramayulis, 2005, Metodologi
Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, Cet., IV. Hlm. 163-164.
[19] Pola linear dikembangkan oleh Skinner dengan cara menentukan dan membatasi
lapangan yang akan dibahas, lalu mencari istilah teknis, fakta, ketentuan,
prinsip serta hal yang relevan, dan mengatur pertanyaan dalam hal yang
logis. Kemudian, proram branching, jenis
ini dikemukakan oleh Crorodel, di sini murid kadang-kadang pada satu bingkai di
mana dia berbuat salah. Kesalahan itu mengalihkan ia mengadakan perbaikan.
Program ini terdiri dari suatu pilihan. Dikatakan bercabang karena di samping
garis lurus ada lagi garis bercabang dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam
bentuk bagan. Lihat Ramayulis, 2005, Metodologi Pendidikan Agama Islam ....
Hlm. 165-166.
[20] Suja’i, 2008, Inovasi Pembelajaran Bahasa
Arab: Strategi dan Metode Pengembangan Kompetensi, Semarang: Walisongo
Press., Cet., I. Hlm. 37. Penjelasan Suja’i lebih lanjut tentang metode
ini sering dipakai di sekolah-sekolah modern, yang menganggap lebih baik dari
pada pola tradisional seperti terjemah dan kaidah.
[21] al-Qur’an juga membicarakan metode
nasihat seperti naihat Luqman kepada anaknya QS. Luqman;13-17, QS. Saba’;46-49,
QS. Hud; 32-34, dan lainnya.
[22] Abdullah Nashih Ulwan, tt, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam,
Saifullah Kamalie dan Hery Noer Ali penj., Semarang:asy-Syifa’, Juz II. Hlm.
64.
[23] Muhtar, 2003, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
CV Misaka Galiza. Hlm. 133.
[24] Dimas, Muhammad Rasyid, 2005, 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak, Abdurrahman
Kasdi penj., Jakarta: Pustaka al-Kautsar, Cet., I. Hlm. 69-70.
[25] Khoiron Rosyadi mengutip dari pendapat Edgar Bruce Wesley memaparkan
metode pendidikan ini sebagai rentetan kegiatan belajar pada murid-murid, atau
ia adalah proses yang pelaksanaannya yang sempurna menghasilkan proses belajar,
atau ia adalah jalan yang dengannya pengajaran itu menjadi berkesan. Khoiron Rosyadi, 2004, Pendidikan Profetik,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet,.I. Hlm. 210.
[26] Seirama dengan metode pembelajaran seperti ini diterapkan SD Tomoe, dalam
karya novel yang berasal dari sejarah nyata deskripsi pendidikan sekolah SD di
Jepang, tulisan Tetsuko Kuroyanagi, 2003, Totto-Chan Si Gadis Kecil di Tepi Jendela, Widya Kirana
penj., Jakarta: PT Gramedia, Cet.,I. Hlm. 57. Kemudian, pendapatnya Abdul Rahman Shaleh menjelaskan bahwa dalam metode
cerita guru maupun siswa dapat berperan sebagai penutur. Guru dapat menugaskan
siswa menceritakan suatu peristiwa atau topik. Abdul Rahman Shaleh, 2000, Pendidikan Agama dan
Keagamaan:Visi, Misi, dan Aksi, Jakarta: PT Gemawindu Panca Perkasa,
Cet.,I. Hlm. 72.
[27] Mas’ud, Abdurrahman, 2002, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, Yogyakarta:
Gama Media. Hlm. 22.
[28] Moh. Slamet Untung, 2009, Menelusuri Metode Pendidikan ala Rasulullah,
Semarang: Pustaka Rizki Putra. Hlm. 188-189

Komentar
Posting Komentar