METODE PENDIDIKAN
MENURUT PETUNJUK AL-SUNNAH
Oleh :
Nafiul Lubab*
Abstraksi
Pendidikan tidak bisa dilepaskan peranannya dalam kehidupan manusia. Ia suatu hal yang vital. Sehingga sistem pendidikan yang di dalamnya metode pendidikan selalu dikaji terus menerus “immortal conversation”, terutama dalam metode pendidikan Islam, yang epistemologinya al-Qur’an dan al-Sunnah. Ilmu selalu terus berkembang, begitu pula metode pendidikan dalam tafsiran al-Qur’an maupun al-Sunnah. Sebagai dasar pokok kedua al-Sunnah sangatlah memberi terjemahan artikulasi yang penting dan lebih praktis metodis dalam praktek nabi keseharian dengan para sahabat dalam pendidikannya. Namun demikian, perihal umat Islam ini, terjadi suatu problem pengulangan metode pendidikan yang notabene-nya tawadlu’  antara hubungan pendidik dengan anak didik. Sehingga jarang ditemui pendidikan yang bersubyek dan berobyek pada anak didik.
Hal demikianlah, yang merunut para pakar tokoh Islam, mengungkapkan beberapa metode pendidikan Islam yang bernuansa pada sumber epistemologi utamanya. Seperti Abu Ali Husain ibn Abdillah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina (980-1037 M) metode reward and punishment, Abu Muhammad al-Ghazali (1058-1111 M) metode pembiasaan secara bertahap, Abdurrahman Abu Zaid ibn Khaldun (1322-1406 M) metode pentahapan pengulangan (tadarruj wa al-tikrar), ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah (2009) berjudul 40  Metode Pendidikan & Penagajaran Rasulullah SAW, lalu Abdurrahman an-Nahlawi (1995), Pendidikan Islam: di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, dengan membagi 7 metode pendidikannya, M.Thalib (1996), Pendidikan Islami Metode 30T, ia membagi menjadi 30 metode pendidikan yang penyebutannya diawali huruf T dan masih banyak alternatif metode lainnya.
Dalam kajian analisa penulis mengkritisi pendidikan yang sudah ada dengan memberi metode deduktif- induktif, menjadikan suatu metode pendidikan yang aktif, kreatif, bagaimana menjadikan anak didik sebagai aktor pendidikan. Pendidik di sini dalam posisi orang dewasa
yang membantu perkembangan anak dalam mengantarkan tercapainya tujuan pendidikan yang mampu menjawab tantangan kehidupan anak didik di masa depannya.
Kata kunci: metode pendidikan, al-Sunnah
I.     Latar Belakang Masalah
Faktor pendidikan yang terdiri dari lima bagian pendidik, anak didik, metode pendidikan, materi pendidikan, dan lingkungan merupakan suatu hal yang saling berkaitan, tidak bisa terpisahkan. Jika bicara salah satu di antara mereka, maka implikasi satu yang lain akan ikut menjadi faktor pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang akan diaplikasikan. Dari faktor metode pendidikan misalnya, seorang pendidik harus memahami bagaimana materi yang akan disampaikan, bagaimana lingkungannya. Hal ini tidak bisa pendidik berangkat dari ruang kosong dengan tiba-tiba langsung memberi materi pendidikan kepada anak didiknya, tanpa melihat materi.
Permasalahan berlanjut, ketika pendidik menyampaikan materi pendidikan yang memuat pembentukan kepribadian dan penanaman nilai serta transfer of knowledge melalui metode pendidikan sebagaimana pendidik dahulu dididik oleh pendidiknya.[1] Ironis jika demikian keadaannya, metode pendidikan seakan-akan tidak tersentuh oleh nuansa inovasi metode pendidikan yang dapat mengantarkan anak didik menghadapi persoalan hidup yang lebih komplek daripada pendidiknya. Metode pendidikan yang pendidik terapkan telah menghilangkan kreatifitas kemanusiaan, penindasan, ketidakadilan, dominasi dan kolonisasi terhadap anak didik.[2] Kebebasan dan hak mengemukakan suatu pendapat atau pemikiran di-cut sedemikian rupa. Anak didik diarahkan dan dibimbing, tanpa terlebih dahulu berangkat dari mengeluarkan isi dalam pikiran anak didik sendiri. Dengan kata lain, hal ini sesungguhnya yang dinamakan penipuan pendidikan.
Pendidik semestinya memahami anak didik sebagai manusia berpotensi, mempunyai dunianya sendiri, memperlakukan sebagai individu yang unik, terjalin hubungan kekerabatan antara pendidik dengan anak didik tanpa jarak menegangkan, memanfaatkan langsung pengalaman anak serta terus menggali, mengembangkan dan menghargai pendapat anak. Intinya pendidik mengajak untuk aktif dan belajar dalam suasana yang menyenangkan.[3] Maka pandangan pendidikan demikianlah yang tidak menghambat perkembangan anak didik sebagai subyek-aktor pendidikan.[4]
Sebuah adagium mengatakan “al-thariqat ahamm min al-maddah” (metode jauh lebih penting daripada materi),[5] dan kaidah ushul fiqh menyatakan “al amru bi sya’i amru biwasailihi, walil wasaili hukmul maqashidi” (perintah pada sesuatu {termasuk di dalamnya pendidikan}, maka perintah pula mencari mediumnya {metode}).[6] Inilah tuntutan analisis spirit metode pendidikan yang cukup rumit, jika dicari relevansi dengan perbandingan dari turunan atau transfer ide realita pendidikan. Apalagi dalam perspektif Islam yang syarat dengan al-Qur’an dan al-Sunnah yang penuh multitafsir. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan Fazlur Rahman, yakni menganalisa problematika pendidikan Islam di Pakistan, dengan menggunakan metode gerakan ganda dengan empat langkah, di mana salah satu langkah mencari rujukan pada al-Qur’an dan al-Sunnah.[7] Dengan bermaksud meminjam dari teori Fazlur Rahman tersebut, penulis hendak mengkaji secara spesifik bagaimana tentang metode pendidikan dengan mencari rujukan al-Sunnah.

II.      Pembahasan
A.      Pengertian Metode Pendidikan
Metode berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari dua kata, yaitu meta yang berarti melalui, dan hodos yang berarti jalan. Jadi metode adalah jalan yang dilalui untuk memcapai tujuan.[8] Sedangkan dalam bahasa Indonesia metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud.[9]
 Metode diartikan sebagai “cara” bukan “langkah” atau “prosedur”. Metode yang diartikan cara mengandung pengertian fleksibel sesuai kondisi dan situasi serta mengandung implikasi “mempengaruhi” saling ketergantungan antara pendidik dengan anak didik. Sedangkan metode dalam arti “langkah” atau “prosedur” lebih bersifat teknis administratif atau taksonomis seolah-olah mendidik atau mengajar hanya diartikan sebagai langkah aksiomatis, kaku, dan tematis. Dalam pengertian “cara” ini, antara pendidik dan anak didik berada dalam proses kebersamaan menuju ke arah tujuan tertentu.[10]
 Seringkali kata pendidikan digantikan dengan kata pengajaran. Menurut Sikun Pribadi guru besar IKIP Bandung antara pengajaran dan pendidikan merupakan dua istilah yang terdapat persamaan dan perbedaan. Pengajaran adalah suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan anak mengenai segi kognitif dan psikomotorik semata. Sedangkan pendidikan mencakup segi kognitif, psikomotorik, dan afektif. Kemudian, tujuan pengajaran lebih mudah ditentukan daripada pendidikan. Tujuan pendidikan menyangkut seluruh kepribadian manusia yang sulit ditentukan. Sebenarnya tujuan pengajaran juga menyangkut kepribadian manusia, namun pengajaran hanyalah sebagian dari kepribadian manusia. Dengan demikian, pengajaran merupakan bagian dari pendidikan.[11]
 Selanjutnya metode pendidikan adalah cara yang tepat guna untuk menjelaskan materi pendidikan kepada anak didik dalam situasi dan kondisi tertentu. Materi pendidikan tersebut diharapkan memberi kesan yang mendalam pada diri anak didik (Jalaluddin, 1996: 53).[12] Pengertian ini mengarah pada model pendidikan paedagogik, yakni mendidik anak. Dalam istilah tertentu metode pendidikan ini dapat disejajarkan[13] dengan strategi belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar di sekolah. Karena mengingat proses pendidikan atau belajar ini terjadi antara pendidik sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab menjelaskan materi pendidikan kepada anak didiknya dan anak didik sendiri sebagai subyek maupun obyek pendidikan. Konsepsi metode pendidikan tersebut, yang dimaksud penulis untuk mengkaji bagaimana metode pendidikan menurut petunjuk al-Sunnah.
B.       Metode Pendidikan dalam al-Sunnah
 Metode pendidikan sebagai bagian yang urgen dalam sistem pendidikan, tidak kering untuk dikaji, selalu ada tema dan penamaan metode pendidikan baru (new released), meski sudah banyak tokoh pemikir yang menemukan metode pendidikan, di Barat seperti Johann Friedrich Herbart (1776-1841 M) asal Jerman terkenal dengan metode berpikir induktif dalam proses belajar mengajar, Johann Heinrich Pestalozzi (1746-1827 M) teori pendidikan yang didasarkan atas paham naturalisme, John Dewey (1859-1952 M) terkenal dengan metode learning by doing. Sedangkan dalam dunia muslim Abu Ali Husain ibn Abdillah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina (980-1037 M) metode reward and punishment, Abu Muhammad al-Ghazali (1058-1111 M) metode pembiasaan secara bertahap, Abdurrahman Abu Zaid ibn Khaldun (1322-1406 M) metode pentahapan pengulangan (tadarruj wa al-tikrar).[14]
 Wacana sekarang, beredar buku-buku terbitan dari penerbit dalam maupun luar negeri yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dengan mengklasifikasikan macam-macam metode pendidikan dalam mengatasi problematika pendidikan dalam mencapai tujuannya. Seperti bukunya ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah (2009) berjudul 40  Metode Pendidikan & Penagajaran Rasulullah SAW,[15] lalu Abdurrahman an-Nahlawi (1995), Pendidikan Islam: di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, dengan membagi 7 metode pendidikannya,[16] M.Thalib (1996), Pendidikan Islami Metode 30 T, ia membagi menjadi 30 metode pendidikan yang penyebutannya diawali huruf T,[17] dan buku lainnya yang membahas alternatif metode pendidikannya. Namun demikian, penulis tidak berpretensi mengulas semua, atau sebagian metode yang di singgung di atas, hanya menyebutkan empat metode pendidikan kajian menurut petunjuk al-Sunnah, yaitu sebagai berikut:
1.    Metode graduasi
a)    Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwasannya ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’adz ke Yaman.
عن ابن عباس عن معاذ بن جبل - قال أبو بكر ربما قال وكيع عن ابن عباس أن معاذا - قال بعثنى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال : إنك تأتى قوما من أهل الكتاب. فادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأنى رسول الله فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات فى كل يوم وليلة فإنهم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد فى فقرائهم فإن هم أطاعوا لذلك فإياك وكرائم أموالهم واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب.” (رواه مسلم)
Artinya: “Sesungguhnya kamu akan mendatangi para ahli kitab, maka ajaklah mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku (Muhammad) adalah utusan-Nya. Jika mereka mentaati ajakan itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan shalat lima kali dalam sehari semalam. Jika mereka menerima ajakan tersebut, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan zakat atas mereka yang dipungut dari orang-orang kaya di antara mereka, lalu diberikan kepada orang-orang fakir di anatara mereka. Jika mereka mentatai kewajiban itu, maka hormatilah harta mereka serta takutlah terhadap do’a orang-orang yang teraniaya, karena sungguh antara do’a mereka dan Allah SWT tidak terdapat hijab (penghalang)” (HR Muslim, tt:37 No. Hadits 130 Bab al-Du’a ila syahadataini wa Syara’i, Juz I).

b)   Diriwayatkan dari Jundub bin ‘Abdillah r.a, ia berkata:
كنامع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم
القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنابه إيمانا. (رواه ابن ماجه)
Artinya: “Sewaktu kami masih remaja, kami pernah (belajar) bersama Rasulullah. Materi yang kami pelajari terlebih dahulu adalah tentang keimanan, setelah itu barulah kami mempelajari al-Qur’an, sehingga ketika kami usai mempelajari al-Qur’an, maka keimanan kami semakin bertambah.” (HR Ibn Majah,  :23 No. 61 Bab fi al-Iman, Juz 1).

c)    Diriwayatkan dari Muhammad Ibnu Fudhai, dari ‘Atha’ (Ibn as-Sa’ib), dari Abi Abdurrahman (as-Sulami al-Muqri’).
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِئُونَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ فَلَا يَأْخُذُونَ فِي الْعَشْرِ الْأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِي هَذِهِ مِنْ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ قَالُوا فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَل.(رواه: أحمد(
Artinya: “Salah seorang yang biasa mengajari kami, yakni dari kalangan shahabat Nabi SAW, bercerita kepada kami bahwa sesungguhnya mereka (para sahabat) pernah mempelajari 10 ayat (al-Qur’an) dari Rasulullah SAW. Mereka tidak mempelajari 10 ayat yang lain sebelum mereka dapat mengetahui setiap ilmu yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut dan mengamalkannya.” (HR Ahmad, 1999 :466 No. Hadits 23482 Juz 38)

 Hadits yang pertama dan kedua metode graduasi dalam pentahapan keimanan anak didik aspek afektif, hanya perbedaannya dalam hadits pertama penekanannya pada anak didik dalam artian masih awam (dalam hadits bagian point a di atas berupa ajakan orang yang hendak masuk Islam), sementara hadits kedua tahapan anak didik dalam kondisi sudah mengenal Islam (Hadits pentahapan dalam mempelajari suatu ilmu). Pendidik mengaplikasikan metode ini dalam kapasitas pengetahuan anak didiknya. Jadi guru tidak mengajar dengan kadar pengetahuannya dilakukan secara sekaligus, tetapi melalui tahapan-tahapn waktu dan materi pendidikan dan pengajarannya.
 Sementara hadits ketiga, sahabat mempelajari al-Qur’an dari Rasulullah SAW. Mereka tidak mempelajari 10 ayat yang lain sebelum mereka dapat mengetahui setiap ilmu yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut dan mengamalkannya. Pendekatan yang dipakai Sahabat diposisikan sebagai anak didik dan Rasulullah pendidik, secara tidak langsung aspek kognitif dalam memahami ayat al-Qur’an dan psikomotorik dalam mengamalkan al-Qur’an dengan pertanggungjawaban sahabat sendiri, sungguh suatu hal yang sempurna dan langka untuk batas ukuran anak didik saat ini.
Metode graduasi sistem ketiga ini, pada dasarnya hampir mirip dengan metode berprograma.[18] Perbandingannya dalam metode graduasi dan metode berprograma sama-sama dalam scope yang telah ditentukan, anak didik tidak bisa pindah ke materi yang lain, sebelum selesai atau menuntaskan tahap bahasan lebih awal yang mendahuluinya. Namun dalam metode berprograma sebatas menyentuh aspek koginitif peserta didik, lain halnya dengan metode graduasi yang ditindaklanjuti dengan amalan dari pengetahuan yang diperoleh (kognitif dan psikomotorik). Sebaliknya juga metode graduasi dalam kognitifnya tidak serumit apa yang ada dalam metode berprograma, yang lebih rinci membagi ke beberapa varian kognitif. Sebagai misal, jenis program pola linear dan program branching (bercabang).[19] Pembicaraan proposisi-proposisi tersebut, menguatkan bahwa metode ini dapat dimix menjadi lebih berkembang dan variatif aplikasinya diolah dan oleh pendidik .
2.    Metode isyarat (anggota tubuh)
a)    Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari r.a:
حدثنا محمد بن يوسف حدثنا سفيان عن أبي بردة بريد بن أبي بردة قال أخبرني جدي أبو بردة عن أبيه أبي موسى : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال “:المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا  . ( ثم شبك بين أصابعه) " (رواه البخاري)
Artinya:“Orang mukmin yang satu bagi mukmin yang lainnya adalah laksana suatu bangunan yang bagian-bagiannya saling mengokohkan.” (Beliau menganyam jari-jari kedua tangannya sebagai isyarat atas penjelasannya) (HR al-Bukhari, 1987 :2242 No.Hadits 5680, Bab Ta’aluq al-Mu’minin ba’dluhum ba’dla, Juz V)

b)   Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d al-Saidi r.a :
حدثنا عمرو بن زرارة أخبرنا عبد العزيز بن أبي حازم عن أبيه عن سهل قال:  قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : "أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا. وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئا" (رواه البخاري)

Artinya:“Kelak aku dan pengasuh anak yatim akan berada di surga laksana dua (jari) ini, seraya beliau berisyarat dengan kedua jari beliau, jari telunjuk dan jari tengah dengan sedikit direnggangkan.”(HR al-Bukhari, 1987:2032 No. Hadits 4998, Bab al-la’an, Juz V)

c)    Diriwayatkan dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, dia berkata bahwasannya dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat aku pegang teguh.” Redaksi haditsnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ الْمُبَارَكِ قَالَ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَاعِزٍ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ: قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ قَال:َ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا”.(رواه: أحمد)
Artinya:“Katakanlah: “Rabbku adalah Allah, kemudian beristiqamahlah.” Aku bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau takutkan terhadapku?” Beliau kemudian menunjuk lidah beliau, lalu berkata: “ini!” (HR Ahmad, 1999:145, No. Hadits 15419, Bab 24,  Juz 24)

d)   Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a,:
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو عُشَّانَةَ حَيُّ بْنُ يُؤْمِنَ الْمَعَافِرِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :تَدْنُو الشَّمْسُ مِنْ الْأَرْضِ فَيَعْرَقُ النَّاسُ فَمِنْ النَّاسِ مَنْ يَبْلُغُ عَرَقُهُ عَقِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْعَجُزَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْخَاصِرَةَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ مَنْكِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ عُنُقَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ وَسَطَ فِيهِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ فَأَلْجَمَهَا فَاهُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ هَكَذَا وَمِنْهُمْ مَنْ يُغَطِّيهِ عَرَقُهُ وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِشَارَةً”.(رواه: أحمد)

Artinya:“(Pada hari kiamat nanti) matahari akan mendekati bumi, sehingga semua manusia akan mencucurkan keringat. Di antara mereka ada yang keringatnya (menggenang) sampai batas kedua mata kaki mereka;di antara mereka yang lain ada yang keringatnya (menggenang) hingga batas kedua lutut mereka; di antara mereka yang lain ada yang keringatnya (menggenang) sampai batas paha mereka; di antara mereka yang lain lagi ada yang keringatnya (menggenang) sampai pada batas pinggang mereka; di antara mereka ada yang keringatnya (menggenang) hingga masuk ke dalam mulut mereka;”(‘Uqbah memberi isyarat seraya meletakkkan tangan di mulutnya, lalu berkata:”Aku juga melihat Rasulullah SAW memberi isyarat demikian”)”dan di antara mereka yang lain ada yang tenggelam oleh keringat mereka sendiri.”(beliau memberi isyarat dengan tangannya). (HR Ahmad, 1999:647, No.Hadits 17439, Bab 28, Juz 28).
 Ada empat hadits yang penulis kutip dari al-Bukhari dan Ahmad, masing-masing Rasulullah SAW menjelaskan pembicaraannya dengan mengisyaratkan pada anggota tubuhnya, baik dari perrsaudaraan muslim dengan menganyam jari-jari, dekatnya Rasulullah dan pengasuh anak yatim akan di surga dengan mengisyaratkan dua jari telunjuk dan tengah, hal yang perlu ditakutkan dengan menunjuk lidahnya Rasul sendiri, maupun meletakkan tangan di mulut isyarat tanda genangan keringat di kiamat nanti.
 Hal tersebut secara praktis metodologis bisa diimplementasikan saat belajar bahasa Arab misalnya, sebagaimana Suja’i menjelaskan belajar bahasa Arab secara langsung tanpa menggunakan perantara atau terjemah yang kemungkinan tidak tepat padanannya, metode ini dikenal dengan metode langsung (al-Thariqah al-Mubasyiroh).[20] Jadi pendidik langsung menunjuk pada objek tertentu, dan itu dapat dipahami secara langsung oleh anak didik. Hal ini tidak ubahnya Rasulullah ketika melakukan isyarat-isyaratnya secara jelas, sahabatpun memahaminya.
3.    Metode nasihat dan peringatan
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr as-Sulamy dan Hujr bin Hujr, keduanya berkata: Kami pernah bertemu dengan al-Irbadh bin Sariyah. Setelah mengucapkan salam, kemudian kami berkata: “Kami datang kepadamu untuk berziarah serta sebagai orang yang kembali dan mencari.” al-‘Irbadh berkata: “ pada suatu hari Rasulullah SAW shalat bersama kami, kemudian (setelah shalat) beliau mengahdap kami untuk menyampaikan suatu nasihat penting, sehingga membuat semua pendengarnya menangis dan hatinya menjadi tergetar (tergugah). Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, adakah (nasihat) ini merupakan nasihat orang yang berpamitan? Maka apa yang engkau sampaikan kepada kami?” sebagaimana Hadits berikut:  

عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو السُّلَمِىُّ وَحُجْرُ بْنُ حُجْرٍ قَالاَ أَتَيْنَا الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ وَهُوَ مِمَّنْ نَزَلَ فِيهِ (وَلاَ عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لاَ أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ) فَسَلَّمْنَا وَقُلْنَا أَتَيْنَاكَ زَائِرِينَ وَعَائِدِينَ وَمُقْتَبِسِينَ. فَقَالَ الْعِرْبَاضُ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ « أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ». (رواه أبوداود )

Artinya:“Aku berpesan pada kalian untuk tetap bertaqwa kepada Allah, juga mendengar dan taat meskipun yang menjadi pemimpin kalian adalah seorang budak dari negeri Habsy, karena siapapun dari kalian yang hidup sesudahku, maka dia akan melihat perselisihan yang amat banyak. Oleh karena itu, wajib bagi kalian memegang teguh Sunnahku dan Sunnah para Khalifah yang bijak (khulafaur rasyidin). Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah dengan geraham kalian, serta jauhkan diri kalian dari mengada-adakan sesuatu yang baru dalam persoalan agama), karena setiap sesuatu yang diada-adakan adalah bid’ah: dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR Abu Dawud, tt:329 No. Hadits 4609 Bab fi Luzumi al-Sunnah, Juz IV)  
 Dalam metode ini Rasulullah SAW menekankan betapa pentingnya internalisasi dan transformasi nilai-nilai agama Islam, agar umatnya tidak tersesat jalannya. Hadits di atas menyirat bahwa perlunya seorang guru mendidik anak didiknya dengan metode nasihat. Nasihat dapat membukakan mata anak-anak pada hakekat sesuatu, mendorongnya menuju situasi luhur, menghiasinya dengan ahlaq mulia, dan membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam (sebagaimana dal al-Qur’an[21] dan Sunah).[22]  
 Dalam bukunya Muhtar mengutip Abdullah Nashih Ulwan menjelaskan ada lima metode yang influentif dalam menanamkan pendidikan akhlak terhadap anak didik, yaitu: (1) pendidikan dengan keteladanan, (2) pendidikan dengan adat kebiasaan, (3) pendidikan dengan nasihat, (4) pendidikan dengan memberikan perhatian, dan (5) pendidikan dengan memberikan hukuman. Ini semua jelas harus dimulai dari sikap pendidik terlebih dahulu, tanpa itu pendidikan yang diterapkan hanya sebatas metode saja, tidak akan mendapatkan harapan kesuksesan tujuan menjaga moral anak didik.[23]
Kelima metode tersebut puncak klimaksnya bagaimana menguraikannya dalam bentuk nasihat operasional pendidik dengan cara-cara aplikatif-positif. Berseberangan dengan spirit nasihat kepada anak dengan aura negatif, mengatakan kepada anak yang berbuat salah atau tidak sopan dengan kata-kata,”kamu anak durhaka atau kamu anak jorok”, bandingkan dengan “Sesungguhnya kamu anak yang baik dan pintar, tidak semestinya melakukan itu atau kamu anak yang pemberani dan berahlak mulia, lakukan yang berguna ya sayang?”.  Stigma kata-kata ini akan membawa opini anak menggambarkan tentang dirinya dalam koridor seperti itu. Konsepsi waktu kecil akan menjadi rujukannya di waktu besar kelak. Dengan spirit positif, akan mendorong sikap pengaruh positif dalam kehidupan anak dan perilakunya.[24]
 Harapan akhir dengan adanya metode nasihat dan peringatan ini, anak didik dalam pendidikannya akan mendapatkan kesan [25] bahwa ia telah melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan norma-norma agama maupun sosial dalam konteks multikultural. Di sini pendidik harus mampu memberi argumen dasar tentang nasihat dan peringatan yang diberikan kepada anak didik untuk menyikapi ragam perilaku masyarakat ke depannya.   
4.    Metode cerita
a)    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, dengan redaksi hadits sebagai berikut :
حدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا مالك عن سمي عن أبي صالح عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: "بينا رجل يمشي فاشتد عليه العطش فنزل بئرا فشرب منها ثم خرج فإذا هو بكلب يلهث يأكل الثرى من العطش فقال لقد بلغ هذا مثل الذي بلغ بي فملأ خفه ثم أمسكه بفيه ثم رقي فسقى الكلب." فشكر الله له فغفر له. قالوا: "يا رسول الله وإن لنا في البهائم أجرا ؟ قال  في كل كبد رطبة أجر."  (رواه البخاري)

Artinya:“(Suatu ketika) seseorang yang tengah kehausan berjalan di suatu jalan dan kebetulan ia mendapat suatu sumur, kemudian dia segera turun ke dalam sumur itu untuk minum, setelah itu dia naik lagi (dari sumur tersebut). Saat itu tiba-tiba ia mendapati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan terlihat sedang menjilati tanah karena kehausan. Orang itu lalu bergumam:”sungguh anjing ini begitu kehausan sebagaimana rasa hausku tadi. Setelqah itu orang tersebut lalu kembali ke dalam sumur dan mengisi sepatunya dengan air, kemudian membawanuya naik dengan cara menggigit di mulutnya, lalu memberikannya pada anjing tersebut. Maka Allah menerima kebaikannya itu dan berkenan mengampuni dosa-dosanya. Mereka (para sahabat) lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa memperoleh pahala terkait dengan binatang?” Beliau menjawab: “Pada tiap-tiap hati yang basah (mahluk hidup) pasti ada pahala.” (HR Bukhari, 1987 :833, No,Hadits 2234 Bab Fadlu saqyu al-Ma’, Juz II)

b)   Hadits periwayatan dari Abdullah bin ‘Umar  r.a, yaitu:

حدثنا إسماعيل قال حدثني مالك عن نافع عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: "عذبت امرأة في هرة حبستها حتى ماتت جوعا فدخلت فيها النار"  . قال فقال: "والله أعلم، لا أنت أطعمتها ولا سقيتها حين حبستها ولا أنت أرسلتها فأكلت من خشاش الأرض." (رواه البخاري)
“Seorang perempuan disiksa di neraka karena seekor kucing yang diikatnya, hingga kucing itu mati, lantaran perempuan itu tidak memberinya makan dan tidak pula minum. Dia terus mengurung kucing itu hingga kucing tersebut tidak dapat mencari makannya sendiri dari serangga-serangga yang ada di muka bumi.” (HR al-Bukhari, 1987:834 No. Hadits 2236, Bab fadlu saqyi al-Ma’, Juz II)

Dari dua kisah dalam hadits di atas tentang dua orang yang bertolak belakang. Seorang yang menyayangi dan berbuat baik kepada binatang, sehingga mendapatkan ampunan Allah, sedangkan lainnya membenci dan berbuat buruk terhadap binatang, maka mendapatkan siksa. Metode cerita ini dapat dikembangkan menjadi dua sisi hubungan “guru yang murid”, “murid yang guru”, maksudnya selain yang bercerita guru, sebenarnya muridpun berhak mengemukakan cerita sebagaimana gurunya.[26]
Abdurrahman Mas’ud menjelaskan teorinya tentang metode humanisme religius, bagaimana guru memahami, mendekati, dan mengembangkan siswa sebagai individu yang memiliki potensi kekhalifahan dan potensi unik sebgai mahluk Allah SWT. Sebagai tindakan teknisnya guru bertindak sebagai fasilitator, memperlakukan siswa sebagai subyek dan mitra belajar dan sebagainya. Sehingga hal ini, menjadikan anak didik berproses dengan kepercayaan dirinya menjadi pribadi yang matang.[27]  
Pemilihan metode dalam pendidikan, hampir tidak dapat diabaikan beberapa faktor yang menjadi rambu-rambu penting dalam memilih metode. Dengan demikian metode yang dipilihnya dapat bekerja secara efektif dam efisien serta maksimal guna tercapainya tujuan pendidikan. Pertama, kondisi anak didik, apakah mereka memiliki tingkat kemampuan dalam memberikan respon terhadap metode yang diberlakukan kepada mereka, misalnya penggunaan metode graduasi ini. Kedua, materi pelajaran yang menghendaki beraneka ragam metode yang berbeda. Ketiga, kapabilitas guru dalam menggunakan metodemerupakan faktor efektifitas pemakaian metode yang dipilih, misalnya guru yang tidak fasih bicara. Sebaiknya tidak menggunakn metode ceramah. Keempat, tujuan metode apapun yang dipilih harus disesuaikan dengan tujuan yang dikehendaki, bukan sebaliknya tujuan yang menyesuaikan metode.[28]

III.   Penutup
Metode Pendidikan sebagai suatu konsep perlu dipahami essensinya, agar tidak terjadi kerutinan, kebekuan, tanpa memperhatikan perkembangan, maupun perubahan yang cepat. Di sinilah perlu analisa yang mendalam, sehingga mampu memberikan, menyajikan suatu anak didik, atau sumber daya manusia yang membangun di masa kini maupun yang akan datang. Tuntutan mendesak bagi pendidik dalam proses pendidikan harus menguasai dan menggunkan beberapa metode, tidak akan mungkin menggunakan satu metode, dengan memperhatikan beberapa faktor terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam melangkah menggapai tujuan operasional aplikatif maupun idealitanya.
Di antara empat metode yang penulis kaji, metode graduasi, metode isyarat, metode nasihat, dan metode cerita, hanyalah sedikit dari banyaknya metode pendidikan yang belum dibahas dalam merujuk pendekatan al-Sunnah. Bagaikan cermin antik, al-Sunnah akan memberi warna dan rasa aroma yang berbeda, meski dalam satu matannya. Dengan kata lain, satu matan dengan pendekatan yang berbeda akan menemukan berbagai metode pendidikan yang berlainan. Kemudian, sebagai faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan oleh pendidik dalam menentuka metodenya, sebagaimana tersebut di atas adalah: (1) kondisi anak didik, (2) materi pelajaran yang menghendaki beraneka ragam metode yang berbeda, (3) kapabilitas guru dalam menggunakan metode, dan (4) tujuan metode.
Ini semua bermuara pada tema sentral pada arah tujuan pendidikan. Keberhasilan dari upaya tujuan ini, tidaklah semata-mata ditentukan dengan teori tersebut di atas, tetapi ditentukan oleh keterlibatan generasi-gemerasi berikutnya dalam melanjutkan upaya-upaya yang telah dilakukan teori tersebut. Perkembangan metode pendidikan al-Sunnah masih terbuka lebar untuk bahan kajian epistemologi pendidikan Islam sebagai nafas untuk kehidupan di masa depan.

Daftar Pustaka
al-Bukhari, Imam Abi Abdillah Muhammad ibn Ismail, 1987, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, al-Yamamah Beirut: Dar ibn Katsir, Cet., III.
al-Qazwini, Muhammad ibn Yazid Abu Abdullah, tt, Sunan Ibn Majah, Beirut: Dar al-Fikr
an-Nahlawi, Abdurrahman, 1995, Pendidikan Islam: di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, Cet.,I.
Arief, Armai, 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, Cet.,I.
Arifin, M, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, Cet.,V.
Arifin, 1994, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, Cet.,IV.
Arifi, Ahmad, 2001, “Menilik Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif Pendidikan Islam”, dalam jurnal Pendidikan Conceptor, BEMJ KI Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga.
Chan, Stevan M, 2002, Pendidikan Liberal Berbasis Sekolah, Abdul Munir Mulkhan dan Umi Yawisah penyadur, Yogyakarta: LPKM
Depdikbud,  1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Cet., IV.
Dimas, Muhammad Rasyid, 2005, 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak, Abdurrahman Kasdi penj., Jakarta: Pustaka al-Kautsar, Cet.,I.
Ghuddah,  ‘Abdul Fattah Abu, 2009, 40  Metode Pendidikan & Pengajaran Rasulullah SAW, Bandung: Irsyad Baitus Salam, Cet.,I.
Hanbal, Ahmad ibn, 1999, Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, t.k: Muassasah al-Risalah, Cet.,II  
Idrus, Muhammad, 1997, Karakteristrik dan Dimensi Moral Anak Didik dalam Pendidikan dalam buku Pendidikan Islam dalam Peradaban Industria, Yogyakarta: Fak. Tarbiyah UII.
Kuroyanagi,  Tetsuko, 2003, Totto-Chan Si Gadis Kecil di Tepi Jendela, Widya Kirana penj., Jakarta: PT Gramedia, Cet.,I.
Mas’ud, Abdurrahman, 2002, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, Yogyakarta: Gama Media.
Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993, Pemikiran Pendidikan Islam:Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung: Trigenda Karya, Cet.,I.
Muhtar, 2003, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: CV Misaka Galiza.
Muslim, Abi al-Husaini, tt, al-Jami’ al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, Beirut: Dar al-Jail dan Dar al-Afaq al-Jadidah,  Juz I.
Nizar, Samsul, 2002, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Press, Cet.,I.
Purwanto, Ngalim, 2002, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet.,XIV. 
Ramayulis, 2005, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, Cet.,IV.
Rosyadi, Khoiron, 2004, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet,.I.
Shaleh, Abdul Rahman , 2000, Pendidikan Agama dan Keagamaan:Visi, Misi, dan Aksi, Jakarta: PT Gemawindu Panca Perkasa, Cet.,I.
Sulaiman, Abu Dawud, tt, Sunan Abu Dawud, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, Juz IV.
Sutrisno, 2005, Fazlur Rahman: Kajian Terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet.,I.
Suja’i, 2008, Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab: Strategi dan Metode Pengembangan Kompetensi, Semarang: Walisongo Press., Cet.,I.
Tafsir, Ahmad, 1994, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif  Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet.,II.
Thalib, M, 1996, Pendidikan Islam Metode 30T, Bandung: Irsyad Baitus Salam, Cet.,XI.
Taruna, J.C Tukiman, 2002, “Pedas dan Pakem:Komitmen dan Revolusi Pembelajaran”, dalam BASIS, No. 07-08, Tahun ke-51, Juli-Agustus.
Ulwan, Abdullah Nashih, tt, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Saifullah Kamalie dan Hery Noer Ali penj., Semarang:asy-Syifa’, Juz II
Untung, Moh. Slamet, 2009, Menelusuri Metode Pendidikan ala Rasulullah, Semarang: Pustaka Rizki Putra.



* Alumni program pasca sarjana IAIN Walisongo Semarang angkatan 2013 dan dosen STIT MADINA Sragen

[1] Permasalahan tersebut penulis ungkap sebagaimana Munir Mulkhan memberi kata pengantar dalam buku Pendidikan Liberal menjelaskan bahwa penguasaan guru terhadap materi terbatasa pada apa yang mereka peroleh selama masa pendidiknya dahulu dengan pola dan model yang sama, lihat Stevan M, 2002, Pendidikan Liberal Berbasis Sekolah, Abdul Munir Mulkhan dan Umi Yawisah penyadur, Yogyakarta: LPKM, hlm. xxiv. Metode pendidikan seperti ini biasanya masih diterapkan dalam sistem pendidikan pesantren, materi-materi yang pendidik ajarkan syarat dengan nilai kepribadian, akan tetapi dominasi pesantren terhadap santri sangat kental. Metode sorogan dan metode wetonan atau bandongan. Metode ini santri sebagai anak didik kurang aktif (Qomar, 2007:142-143)
[2] Ahmad Arifi, 2001, “Menilik Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif Pendidikan Islam”, dalam jurnal Pendidikan Conceptor, BEMJ KI Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga. Hlm. 44-45.

[3] Taruna, J.C Tukiman, 2002, “Pedas dan Pakem:Komitmen dan Revolusi Pembelajaran”, dalam BASIS, No. 07-08, Tahun ke-51, Juli-Agustus. Hlm. 70.
[4] Muhammad Idrus, 1997, Karakteristrik dan Dimensi Moral Anak Didik dalam Pendidikan dalam buku Pendidikan Islam dalam Peradaban Industria, Yogyakarta: Fak. Tarbiyah UII. Hlm. 45.
[5]Armai Arief, 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, Cet., I. Hlm. 39.
[6] Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993, Pemikiran Pendidikan Islam:Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung: Trigenda Karya, Cet., I. Hlm. 229.
[7]  Empat langkah tersebut, yaitu: (1) identifikasi terhadap pendidikan umat Islam ketika itu, (2) menemukan problem pendidikan di Pakistan, (3) mencari rujukan pada al-Qur’an dan al-Sunnah, dan terakhir (4) berusaha memberikan alternatif solusi atas problem tersebut berdasar rujukan al-Qur’an dan al-Sunnah, Sutrisno, 2005, Fazlur Rahman: Kajian Terhadap Metode, Epistemologi, dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet., I. Hlm. 151. Teori tersebut lebih dikenal dengan nama Double Movement.
[8] Samsul Nizar, 2002, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Press, Cet., I. Hlm. 65 dan lihat juga M. Arifin, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, Cet., V. Hlm. 61.
[9] Depdikbud,  1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Cet., IV. Hlm. 652
[10] Arifin, 1994, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, Cet.,IV. Hlm. 100-101.
[11] Ahmad Tafsir, 1994, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif  Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet.,II. Hlm. 27. Menurut penulis, sebenarnya bukan merupakan suatu yang prinsip memperbincangkan perbedaan dan persamaan antara pendidikan dan pengajaran, yang penting setiap orang yang berusaha “mendidik” anak dilakukan dengan “mengajar”-kan suatu perbuatan, ketrampilan, dan pengetahuan kepada anak didiknya. Di samping itu, memahami tidak semua perbuatan “mengajar” adalah “mendidik” lihat Ngalim Purwanto, 2002, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet.,XIV. Hlm. 150-151.
[12]  
[13] Disejajarkan dalam bahasa penulis mengikuti pada pengertian antara pendidikan dengan pengajaran sebagaimana di atas, yakni persamaan dan perbedaannya.
[14] Moh. Slamet Untung, 2009, Menelusuri Metode Pendidikan ala Rasulullah, Semarang: Pustaka Rizki Putra. Hlm. 189
[15] 40 metodenya ini menjadi kajian rujukan penulis, untuk mengungkap lebih jauh bagaimana dianalisa dalam pandangan perbandingan dengan metode pendidikan di luar buku tersebut, di samping itu, ia belum sepenuhnya lengkap mengkaji analisa mendalam untuk menjelaskan dalam rangka cara praktis-metodisnya, hanya lebih berkisar dalam wacana tekstualis hadits sebagai tumpuan berpikirnya(deduktif analitis). Di antara metode pendidikannya: metode graduasi, metode ceita, metode nasehat dan peringatan, metode tanya jawab dan sebagainya.
[16] 7 Metode pendidikan menurutnya; metode dialog qur’ani dan nabawi, kisah-kisah qur’ani dan nabawi , perumpamaan qur’ani dan nabawi, aplikasi dan pengalaman, ibarah dan nasihat,serta targhib wa tarhib, lihat an-Nahlawi, Abdurrahman, 1995, Pendidikan Islam: di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, Cet., I. Hlm. 204.
[17] Seperti metode ta’liim, tabyiin, tafshiil, tafhiim, dan sebagainya. M Thalib, 1996, Pendidikan Islam Metode 30T, Bandung: Irsyad Baitus Salam, Cet., XI. Hlm. 9-10.
[18] Metode ini dikenalkan oleh Sidney L.Pressy, seorang psikolog dari Ohio State University di Amerika Serikat 1926. Ia bereksperiment dengan menggunakan mesin yang disebut “teching machine”(mesin mengajar).  Dalam mesin tersebut berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus ditapaki siswa. Jika jawabannya benar, maka ia berlanjut ke hal berikutnya yang lebih rumit, namun bila tidak bisa menjawab, maka tetap saja pada pertanyaan yang pertama. Ramayulis, 2005, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, Cet., IV. Hlm. 163-164.
[19] Pola linear dikembangkan oleh Skinner dengan cara menentukan dan membatasi lapangan yang akan dibahas, lalu mencari istilah teknis, fakta, ketentuan, prinsip serta hal yang relevan, dan mengatur pertanyaan dalam hal yang logis.  Kemudian, proram branching, jenis ini dikemukakan oleh Crorodel, di sini murid kadang-kadang pada satu bingkai di mana dia berbuat salah. Kesalahan itu mengalihkan ia mengadakan perbaikan. Program ini terdiri dari suatu pilihan. Dikatakan bercabang karena di samping garis lurus ada lagi garis bercabang dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam bentuk bagan. Lihat Ramayulis, 2005, Metodologi Pendidikan Agama Islam .... Hlm. 165-166.
[20] Suja’i, 2008, Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab: Strategi dan Metode Pengembangan Kompetensi, Semarang: Walisongo Press., Cet., I. Hlm. 37. Penjelasan Suja’i lebih lanjut tentang metode ini sering dipakai di sekolah-sekolah modern, yang menganggap lebih baik dari pada pola tradisional seperti terjemah dan kaidah.
[21]  al-Qur’an juga membicarakan metode nasihat seperti naihat Luqman kepada anaknya QS. Luqman;13-17, QS. Saba’;46-49, QS. Hud; 32-34, dan lainnya.  
[22] Abdullah Nashih Ulwan, tt, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Saifullah Kamalie dan Hery Noer Ali penj., Semarang:asy-Syifa’, Juz II. Hlm. 64.
[23] Muhtar, 2003, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: CV Misaka Galiza. Hlm. 133.
[24] Dimas, Muhammad Rasyid, 2005, 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak, Abdurrahman Kasdi penj., Jakarta: Pustaka al-Kautsar, Cet., I. Hlm. 69-70.
[25] Khoiron Rosyadi mengutip dari pendapat Edgar Bruce Wesley memaparkan metode pendidikan ini sebagai rentetan kegiatan belajar pada murid-murid, atau ia adalah proses yang pelaksanaannya yang sempurna menghasilkan proses belajar, atau ia adalah jalan yang dengannya pengajaran itu menjadi berkesan. Khoiron Rosyadi, 2004, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet,.I. Hlm. 210.
[26] Seirama dengan metode pembelajaran seperti ini diterapkan SD Tomoe, dalam karya novel yang berasal dari sejarah nyata deskripsi pendidikan sekolah SD di Jepang, tulisan Tetsuko Kuroyanagi, 2003, Totto-Chan Si Gadis Kecil di Tepi Jendela, Widya Kirana penj., Jakarta: PT Gramedia, Cet.,I. Hlm. 57. Kemudian, pendapatnya Abdul Rahman Shaleh menjelaskan bahwa dalam metode cerita guru maupun siswa dapat berperan sebagai penutur. Guru dapat menugaskan siswa menceritakan suatu peristiwa atau topik. Abdul Rahman Shaleh, 2000, Pendidikan Agama dan Keagamaan:Visi, Misi, dan Aksi, Jakarta: PT Gemawindu Panca Perkasa, Cet.,I. Hlm. 72.
[27] Mas’ud, Abdurrahman, 2002, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, Yogyakarta: Gama Media. Hlm. 22.
[28] Moh. Slamet Untung, 2009, Menelusuri Metode Pendidikan ala Rasulullah, Semarang: Pustaka Rizki Putra. Hlm. 188-189

Komentar

Postingan Populer